Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Puitika Tari: Warisan Estetik Prof. I Wayan Dibia yang Menyulam Puisi dari Gerak Tari

Wiwin Meliana • Kamis, 12 Juni 2025 | 17:34 WIB

Maestro Tari dan budayawan Prof Dibia dengan segudang karyanya
Maestro Tari dan budayawan Prof Dibia dengan segudang karyanya

BALIEXPRESS.ID – Sosok Prof. Dr. I Wayan Dibia, budayawan dan maestro tari Bali, tengah menjadi sorotan warganet.

Namanya ramai diperbincangkan setelah mencuatnya isu pelarangan tokoh Petruk dalam salah satu pertunjukan di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025, di mana Dibia menjabat sebagai kurator.

Baca Juga: Video Nyawer di Diskotik Viral, Kuwu Karangsari Klarifikasi; Saya Punya Banyak Usaha

Sejumlah komentar publik di media sosial menilai bahwa pelarangan itu merupakan bentuk pembatasan terhadap ekspresi budaya dan kritik sosial yang selama ini melekat kuat dalam lakon wayang dan pertunjukan tradisi.

Di tengah polemik ini, penting untuk menengok lebih dalam sosok Prof. Dibia yang tak bisa dilepaskan dari jagat seni pertunjukan Bali.

Dikenal sebagai guru besar seni tari, Prof Dibia adalah tokoh penting yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tari Bali.

Baca Juga: VIRAL! Kepala Desa Karangsari Sawer Pengunjung di Diskotik, Bantah Pakai Dana Desa

Salah satu karya monumental yang mencerminkan kedalaman pemikiran estetiknya adalah penerbitan lima jilid buku “Puitika Tari”, yang merupakan kumpulan puisi reflektif atas pengalaman dan interpretasi artistiknya terhadap dunia tari.

“Kalau biasanya puisi menginspirasi tari, saya mencoba membaliknya—bahwa pertunjukan tari juga bisa melahirkan puisi,” ujar Prof. Dibia dikutip dari Antara News pada Kamis (12/06/2025).

Buku-buku tersebut masing-masing berjudul Ungkap Kata Tari Bali, Nawa Natya, Pengakuan dan Kesaksian Hanuman, Gurat Garis Tari Baris, dan Nyanyian Penari Senja.

Secara keseluruhan, terdapat 160 puisi yang menggambarkan estetika, filosofi, serta emosi mendalam dari dunia seni tari Bali.

Kelima buku itu telah diluncurkan pada 22 Desember 2021 bertepatan dengan Hari Jadi ke-17 Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) Singapadu yang didirikannya, bertempat di Gedung GEOKS Singapadu, Sukawati-Gianya

Baca Juga: Coca Cola PHK Karyawan, Disperinaker Badung Jamin Perusahaan Penuhi Hak Karyawan

Menurut Dibia, dengan pengalamannya dalam menulis geguritan untuk pementasan kesenian Arja, membuat dirinya lebih mudah dalam menulis puisi tersebut. Bahkan bisa sampai 10 puisi dalam sehari.

Sebagai suatu karya olah seni sastra, yang diikat irama, matra dan rima serta disusun ke dalam larik dan bait, Puitika Tari berisikan gambaran jagat tari.

Cakupan kisahnya bervariasi dari prinsip estetik, gerak-gerak, ragam dan jenis, sampai dengan peristiwa pertunjukan tari, ungkapan emosi serta kehidupan senimannya.

Puitika tari menampilkan dua hal yang saling berkaitan yaitu olah sastra dan gambaran keindahan seni tari, termasuk emosi pelakunya terhadap seni tari.

 

Editor : Wiwin Meliana
#estetik #puisi #Prof Dibia #tari