BALIEXPRESS.ID – Di tengah sorotan publik terhadap sosok seniman legendaris drama gong, I Nyoman Subrata alias Petruk, penyanyi Bali Ray Peni kembali mencuri perhatian dengan karya terbarunya.
Baca Juga: Di Tengah Isu Tambang Nikel, Dedi Mulyadi Suarakan Hati Lewat Lagu ‘Surga di Tanah Papua’
Musisi yang dikenal dengan lirik-lirik yang mencerminkan fenomena sosial ini tengah menyiapkan lagu bertajuk “Petruk Dadi Raja”, yang terinspirasi dari lakon drama gong klasik yang lekat di ingatan masyarakat Bali.
Melalui akun Facebook pribadinya, Ray Peni membagikan proses penggarapan video klip lagu tersebut.
Dalam cuplikan video berdurasi singkat itu, terdengar sepenggal lirik yang berbunyi:
“Petruk sing ada lawan, sing ada petruk sing ngidang kedek.”
Baca Juga: Gas Subsidi Disulap Jadi Komersil: Empat Tersangka Oplosan LPG Ditangkap
Lirik ini seolah menjadi penegasan karakter Petruk yang dikenal kritis, jenaka, namun tajam menyuarakan suara rakyat.
“Semoga menginspirasi semetonku sami,” tulis Ray Peni dalam unggahan yang dikutip pada Kamis, 12 Juni 2025.
Lagu ini diyakini akan menjadi penyambung rasa bagi para penggemar drama gong lawas, sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap Petruk sebagai tokoh budaya yang kini tengah hangat dibicarakan, terutama setelah isu absennya lakon “Petruk” di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.
“Petruk Dadi Raja” bukan sekadar lagu hiburan, tetapi juga menjadi refleksi terhadap dinamika sosial, politik, dan budaya yang tengah berkembang di masyarakat.
Tak heran, karya ini dinanti oleh banyak kalangan, dari pecinta musik Bali hingga penggemar seni tradisional.
Ray Peni sendiri sebelumnya dikenal lewat lagu-lagu bernuansa satire seperti “Kapten Oleng”, yang juga menuai respons luas dari masyarakat.
Melalui pendekatan musik, ia kerap menyuarakan kritik sosial dengan cara yang ringan namun mengena.
Lagu “Petruk Dadi Raja” dijadwalkan akan dirilis dalam waktu dekat di kanal digital Ray Peni.
Para penikmat musik Bali pun kini menantikan kehadiran lagu tersebut sebagai suara baru yang lahir dari semangat seni dan perenungan zaman.
Editor : Wiwin Meliana