Geger PKB 2025: Pelawak Legendaris Kak Petruk Dilarang Tampil? Ini Kata Pakar!
Putu Mita Damayanti• Jumat, 13 Juni 2025 | 15:43 WIB
Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita (KIRI)
BALIEXPRESS.ID – Dunia seni pertunjukan Bali tengah dihebohkan oleh polemik seputar pelawak legendaris Kak Petruk.
Sosok yang dikenal dengan gaya lawaknya yang khas dan tajam ini dikabarkan dilarang tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini karena dianggap menggunakan kata-kata kasar yang dinilai tidak etis.
Benarkah demikian? Dan bagaimana tanggapan para ahli terhadap isu ini?
Ketika Humor Berbenturan dengan Etika Panggung: Pandangan Prof. Sugita
Isu pelarangan Kak Petruk ini mencuat dan menjadi perbincangan hangat di kalangan seniman serta masyarakat Bali, terutama setelah dibahas dalam podcast kanal YouTube Jeg Bali pada 12 Juni 2025. Dalam episode bertajuk "Polemik Kak Petruk Dimata Patih Agung: Legenda Yang Bergetar Pada Masanya," Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita hadir sebagai narasumber utama untuk mengurai permasalahan ini.
Prof. Sugita menekankan bahwa tugas utama pelawak adalah menghadirkan tawa dan hiburan yang membangun suasana.
"Yang namanya pemain (pelawak) pang ngidaang ngae anak mekenyem (biar bisa membuat penonton tersenyum), itu memang tugas pelawak," ujarnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa dalam konteks pertunjukan resmi seperti PKB, ada batasan etika yang harus dihormati oleh para seniman.
Ini termasuk pilihan kata yang digunakan di atas panggung.
Menanggapi tindakan kurator yang melarang penggunaan kata-kata tidak pantas, Prof. Sugita menilai bahwa keputusan tersebut bukanlah upaya mengekang kreativitas, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga mutu dan martabat panggung seni tradisional Bali.
"Itu memang tugas kurator. Dalam hal ini kurator tidak salah, Petruk pun tidak salah, karena ada dinamika di dunia lawak. Dulu kata kasar tidak ada mempermasalahkan," jelasnya.
Ini menunjukkan adanya pergeseran standar etika di dunia seni, di mana hal yang dulu dianggap biasa kini mungkin tidak lagi dapat diterima.
Prof. Sugita mengajak para pelaku seni untuk lebih bijaksana dalam menyesuaikan gaya pertunjukan dengan perkembangan zaman.
Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara ekspresi kreatif dan etika panggung agar seni pertunjukan tetap dihargai tanpa kehilangan ruh humornya.
"Imbangi sekarang, karena itu ditekankan. Biar kesenian tampil beretika, jangan salahkan kurator seperti itu," tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan sor singgih basa atau tata bahasa yang sopan dalam berbagai bentuk pertunjukan.
Ini adalah cerminan dari budaya Bali yang luhur dan penuh tata krama.
Polemik Kak Petruk ini membuka diskusi penting tentang evolusi seni lawak di Bali dan bagaimana seniman dapat terus relevan tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya. Akankah ada solusi yang memuaskan semua pihak? ***