Arja Klasik 'Sirnaning Dirada Sungsang' Bikin Merinding! Sanggar Citta Usadhi Hipnotis Penonton PKB ke-47
Putu Resa Kertawedangga• Kamis, 26 Juni 2025 | 02:16 WIB
Penampilan Arja Klasik dari Sanggar Citta Usadhi, Banjar Gunung Sari, desa Mengwitani, Mengwi, Duta Kabupaten Badung di PKB 2025, Selasa (24/6).
BALIEXPRESS.ID – Penampilan Sanggar Citta Usadhi dari Banjar Gunung Sari, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, berhasil memukau ratusan penonton di Kalangan Ayodya, Art Centre Denpasar, Selasa malam (24/6).
Dalam perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, sanggar ini membawakan pertunjukan Arja Klasik berjudul Sirnaning Dirada Sungsang dengan cerita yang penuh drama, nilai moral, hingga kejutan tak terduga.
Cerita ini ditulis langsung oleh maestro seni sekaligus guru besar ISI Denpasar, Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi, bersama sang suami, I Nyoman Cakra.
Dengan latar kerajaan dan pertarungan melawan raksasa, kisah ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga penuh pesan moral, menyuarakan nilai kejujuran, cinta sejati, dan patriotisme.
Pertarungan Epik dan Drama Pengkhianatan
Arja ini mengangkat tokoh Made Umbara, pemuda yang ditugaskan untuk menyelamatkan Raden Galuh Diah Ratna Juita, putri mahkota Kerajaan Swarnakaradwipa, dari ancaman raksasa Dirada Sungsang.
Raksasa ini awalnya hendak memangsa sang putri sebagai tumbal dari Ratu Prameswari, namun malah berbalik simpati dan menyisakan makanan untuknya.
Sementara itu, Made Umbara menjalankan misinya dan berhasil membunuh raksasa tersebut dengan menggunakan taring permata kalung Motiwirasadi milik sang putri.
Namun perjuangannya belum usai, sebab muncul Prabu Gilingwesi yang mengklaim sebagai pembunuh raksasa dan membawa kepala Dirada serta sang putri sebagai trofi kemenangan.
Namun, kebenaran akhirnya terungkap dalam perang tanding terbuka yang disaksikan rakyat.
Made Umbara, yang sebenarnya adalah Rahaden Anindita Kirtana, trah Prabu Kenakadwipa, berhasil mengalahkan Prabu Gilingwesi yang telah mempermalukan kebenaran demi ambisi pribadi.
Pesan Moral Kuat di Balik Layar
“Cerita ini menggambarkan betapa pentingnya kejujuran. Hari ini, semua orang merasa paling benar, paling jujur, tapi sesungguhnya kita sulit tahu siapa yang benar-benar jujur.
Itulah pentingnya kewaspadaan dalam hidup,” ujar Prof. Suarti Laksmi penuh makna.
Ia mengungkapkan, persiapan pertunjukan Arja Klasik ini telah dilakukan sejak September 2024, melibatkan sekitar 30 seniman, sebagian besar adalah anak muda bahkan lulusan SD yang masih pemula.
“Ini pertunjukan yang dikerjakan dari hati, kami ingin warisan seni ini tetap hidup di tangan generasi muda. Meskipun banyak yang baru mulai belajar, semangat mereka luar biasa,” ujarnya bangga.
Kebangkitan Arja di Tangan Generasi Muda
Penampilan ini menjadi bukti bahwa Arja Klasik bukan sekadar seni panggung tradisional, tetapi juga media edukasi dan refleksi sosial.
Dengan sentuhan narasi kuat dan dominasi penari muda, pertunjukan ini terasa segar namun tetap sakral.