BALIEXPRESS.ID– Momen haru sekaligus memilukan dirasakan oleh presenter dan pesulap kondang Uya Kuya, saat pertama kali kembali ke rumahnya pasca tragedi penjarahan massal yang terjadi buntut dari aksi demonstrasi besar pada Agustus lalu.
Baca Juga: Konsisten Berdayakan UMKM Antar BRI Raih Penghargaan Pilar Sosial Katadata ESG Index Awards 2025
Dalam video yang viral di media sosial, Uya Kuya terlihat menyusuri satu per satu sudut rumahnya yang kini tampak porak-poranda, penuh bekas kerusakan dan barang-barang berserakan.
Meski berusaha tegar di hadapan kamera, nada suara dan ekspresi wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa kecewa, syok, dan sedih mendalam.
Baca Juga: Aksi Protes Wayan Setiawan di GWK Banjir Dukungan Netizen, Parkir Mobil Tepat di Pintu Masuk
Namun yang paling menyayat hati, adalah ketika anak Uya menangis setelah melihat kondisi rumah mereka yang hancur dan kosong.
“Anak saya sampai nangis. Rumah yang biasanya jadi tempat mereka nyaman, sekarang seperti bukan rumah lagi,” ungkap Uya dalam video unggahannya, Selasa (30/9/2025).
Dalam pernyataannya, Uya menegaskan bahwa ia dan sang istri, Astrid Kuya, tak mempermasalahkan soal kehilangan barang pribadi mereka.
Namun yang membuatnya tidak bisa menerima adalah ketika penjarahan juga menyeret anak-anaknya, keluarga besar, hingga barang milik karyawan yang tidak tahu-menahu soal situasi.
Baca Juga: Ratusan Sekolah di Buleleng Terima Smartboard, Pendidikan Kian Digital dan Interaktif
“Saya bisa maklumi kalau yang diambil itu barang saya dan Astrid. Tapi ketika mainan anak saya, dokumen keluarga, dan barang-barang karyawan juga ikut dijarah, itu sudah kelewatan,” ujar Uya.
Ia juga mengaku tak menyangka bahwa amarah massa bisa sedemikian luas dampaknya, hingga menyerang area permukiman pribadi yang sebenarnya tidak terkait langsung dengan isu yang dipersoalkan dalam aksi demonstrasi.
Unggahan video Uya Kuya langsung menuai gelombang simpati dan dukungan dari netizen.
Baca Juga: Sertipikat Tanah Ulayat Jadi Penjaga Warisan Budaya Masyarakat Adat
Banyak yang mengungkapkan keprihatinan atas apa yang dialami Uya dan keluarganya, serta mengutuk aksi penjarahan yang dinilai brutal dan tidak manusiawi.
Editor : Wiwin Meliana