Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Singaraja Movement Angkat Tema Stay Together, Buktikan Hardcore Punk Masih Berdenyut Di Singaraja

I Putu Mardika • Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:32 WIB
Komunitas Singaraja Movement menggelar “Final Stomp”, sebuah pertunjukan musik (gigs) yang menjadi ruang berkumpul komunitas hardcore punk, di Do Eat Lovina Corner pada Minggu, 26/4/26 lalu.
Komunitas Singaraja Movement menggelar “Final Stomp”, sebuah pertunjukan musik (gigs) yang menjadi ruang berkumpul komunitas hardcore punk, di Do Eat Lovina Corner pada Minggu, 26/4/26 lalu.

BALIEXPRESS.ID-Komunitas Singaraja Movement kembali menunjukkan eksistensinya melalui gelaran “Final Stomp”, sebuah pertunjukan musik (gigs) yang menjadi ruang berkumpul komunitas hardcore punk, di Do Eat Lovina Corner pada Minggu, 26/4/26 lalu.

Mengusung tema Stay Together, acara ini menegaskan skena hardcore punk di Singaraja masih terus bergerak, dengan puluhan penonton memadati venue sejak pukul 18.00 WITA hingga mendekati tengah malam.

Selain menghadirkan band luar daerah, Glich asal Malang, panggung juga diisi oleh band lokal seperti Agonizedslam, Boston Threat, Leave It Bleed, Byurr, Greeze, Lizzie Lazzy, dan Greaf. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pergerakan skena tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Vokalis Glich mengaku penampilan mereka di Final Stomp terasa berbeda karena menjadi bagian akhir dari rangkaian tur. Ia menggambarkan suasana yang penuh energi dengan keterlibatan penonton dalam moshpit yang aktif.

“Seru banget, apalagi ini jadi final stomp kami, semuanya terasa keluar di atas panggung,” ujarnya.

Baca Juga: AI “Asal Bapak Senang” dan 21CLD: Mengembalikan Pendidikan sebagai Ruang Berpikir di Era Mesin yang Selalu Mengiyakan

Lebih dari sekadar hiburan, Glich menekankan bahwa musik hardcore tetap membawa nilai. Mereka melihat skena ini sebagai ruang alternatif yang aman dan inklusif, sekaligus mempertahankan semangat DIY (Do It Yourself) yang dinilai masih relevan di tengah budaya instan.

Di sisi lain, pengalaman penonton juga memperkuat makna ruang tersebut. Dwipayana, salah satu penonton, menilai gigs menjadi tempat untuk menyalurkan emosi sekaligus membangun kebersamaan.

“Capek, tapi sangat seru. Di sini tempat untuk mengeluarkan kekesalan atau emosi yang ada pada diri saya, seru karena bisa kumpul sama teman-teman, melakukan gerakan yang ikonik,” katanya.

Di balik acara ini, komunitas Singaraja Movement kembali berperan sebagai penggerak. Founder komunitas, Nakula, menekankan bahwa tantangan utama ada pada konsistensi dan menjaga kehadiran audiens

“Tantangannya adalah konsisten dan bagaimana caranya audiens tetap datang ke gigs,” ujarnya.

Ia juga melihat perkembangan positif, di mana kini mulai muncul inisiatif lain yang turut meramaikan gigs hardcore di Singaraja. Dari yang awalnya bergerak sendiri, perlahan skena ini mulai tumbuh secara kolektif.

Ke depan, Singaraja Movement berharap semangat kolektif ini tetap terjaga, sehingga ruang alternatif seperti gigs hardcore dapat terus menjadi wadah ekspresi dan kebersamaan. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Komunitas Singaraja Movement #Final Stomp #Hardcore Punk