BALIEXPRESS.ID- Komitmen Kabupaten Badung dalam menjaga keberlangsungan seni rupa tradisi Bali kembali ditunjukkan melalui keikutsertaan sembilan pelukis dalam Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Senin (15/6/2026).
Peserta yang mewakili Badung berasal dari jalur pendaftaran mandiri maupun sanggar seni sebanyak 9 orang.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya regenerasi seniman muda sekaligus menjaga eksistensi seni lukis wayang klasik di tengah derasnya perkembangan seni kontemporer.
Baca Juga: Persoalan Sampah di Bali Dibicarakan dalam Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art
Pembina Sanggar Seni Krisna Rupa, Desa Abianbase, Kecaamatan Mengwi, Ngurah Alit Kepakisan mengatakan, setiap seniman memiliki karakter goresan yang berbeda meskipun mengangkat tema yang sama.
Menurutnya, keunikan karakter tersebut menjadi salah satu kekuatan yang membuat karya wayang klasik tetap hidup dan memiliki daya tarik.
"Walaupun temanya sama, goresannya berbeda. Di situlah ciri khas seniman muncul untuk membangun karakter karya agar terlihat hidup dan indah," ujarnya.
Pihaknya pun mengapresiasi dukungan pemerintah dalam pelestarian seni lukis klasik, meskipun menurutnya perhatian terhadap seni rupa masih perlu terus diperkuat melalui pameran maupun ruang apresiasi lainnya.
"Kami berharap ke depan ada lebih banyak pameran dan kesempatan bagi perupa muda untuk menampilkan karya-karyanya. Itu akan sangat membantu menjaga semangat regenerasi," katanya.
Baca Juga: BRI Perluas Akses Investasi Global melalui BRImo, Hadirkan Reksa Dana USD Batavia
Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Badung, Made Adi Adnyana menyatakan, Disbud memberikan support dari sisi anggaran yang dibutuhkan, sementara secara teknis melukis dan kreativitasnya diserahkan sepenuhnya kepada pihak sanggar.
Terkait peserta, ia memastikan secara resmi sesuai undangan, Badung hanya mengirimkan dua duta sebagai peserta.
"Tujuh lainnya berasal kategori umum yang mendaftar lewat link panitia PKB. Karena itu, pihak Disbud hanya memberikan pembinaan kepada dua orang peserta yang secara resmi menjadi duta Badung di ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik ini," ungkapnya.
Sementara itu, Juri Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik, I Made Yasana menerangkan, kekuatan seni lukis klasik Bali terletak pada kemampuannya menjaga pakem tanpa mematikan kreativitas seniman.
Menurutnya, istilah seni lukis klasik tidak identik dengan gaya Kamasan semata.
Tradisi lukis klasik berkembang di berbagai wilayah Bali dengan karakter masing-masing, namun tetap berpijak pada akar dan pakem yang sama.
"Yang tidak boleh diubah adalah akar dan pakemnya. Misalnya karakter tokoh wayang harus tetap sesuai identitasnya. Namun pada aspek hiasan, kostum, maupun pengolahan estetika, seniman masih memiliki ruang untuk berkreasi," jelasnya.
Ia menambahkan, penilaian dalam lomba tidak hanya melihat ketepatan pakem, tetapi juga keindahan komposisi, proporsi, serta kemampuan peserta menerjemahkan tema yang diangkat dalam PKB tahun ini.
"Keindahan itu berkaitan dengan proporsi, rasa, dan kemampuan mengolah unsur-unsur visual. Pakem harus dijaga, tetapi kreativitas tetap harus diberi ruang agar seni klasik terus berkembang," katanya.
Sebagai praktisi dan pendidik seni wayang yang telah berkecimpung sejak 1978, Yasana optimistis regenerasi seni lukis wayang klasik masih berjalan baik.
Ia menilai perkembangan metode pembelajaran yang lebih sistematis telah membantu generasi muda memahami dasar-dasar seni wayang dengan lebih cepat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa inovasi tidak boleh menghilangkan identitas dasar seni klasik Bali.
"Akar itu tidak boleh dicabut. Kreativitas boleh berkembang, tetapi fondasi dan nilai-nilai yang menjadi ruh seni klasik harus tetap dijaga," tegasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan