FIDAF merupakan organisasi nirlaba di bawah UNESCO yang fokus menyelenggarakan festival seni tari internasional sebagai sarana diplomasi 47 negara. Salah satu anggotanya Indonesia yang diwakili Sanggar Seni Santhi Budaya dari Singaraja.
Dalam festival itu, Santhi Budaya memboyong 19 orang seniman. “Kami di sini mengikuti kompetisi koreografi,” kata I Gusti Ngurah Eka Prasetya, pendiri Sanggar Seni Santhi Budaya, saat dikonfirmasi via telepon Senin (3/10).
Sampainya sanggar itu ke kancah internasional tentu melalui berbagai seleksi. Sanggar ini masuk seleksi selama satu tahun dari 2020. Namun karena pandemi, festival diundur hingga tahun 2022 ini.
“Setelah itu ada seleksi lagi di Cheonan sehingga ada 6 negara yang lolos seleksi semifinal dari 47 negara. Kami dari Indonesia berhasil meraih juara dua dengan Silver Prize dan merupakan pertama kalinya Indonesia meraih tiga besar dalam ajang itu,” tambah Eka.
Ada tiga garapan yang dipertunjukkan dalam festival itu. Yang pertama adalah parade dengan durasi 5 menit. Kemudian seni Ngeliput yang berdurasi 5 menit dan satu lagi dengan durasi 10 menit yang diberi judul Binneda.
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gus Eka itu menjelaskan, selain prestasi yang diraih kali ini, sanggarnya telah mencetak segudang prestasi diantaranya sebagai duta seni topeng dunia 2008 di Imaco — Andong Korsel , Pesta Gendang Malaka Malaysia 2013, Weifang International Dance Festival 2019 di China, serta Fiesta Folkloriada World Dance Festival — Fidaf Unesco 2019 di Manila. (dhi/wan)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya