Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tragedi Gempa Maroko: Lebih dari 2 Ribu Orang Tewas, 1.400 Korban Kritis Saat Malam yang Jadi Mimpi Buruk Itu

I Putu Suyatra • Senin, 11 September 2023 | 20:05 WIB

 

DUKA UNTUK MAROKO: Seorang pria menggendong bocah laki-laki melewati rumah-rumah yang hancur setelah gempa di Desa Pegunungan Tafeghaghte, barat daya Marrakesh.
DUKA UNTUK MAROKO: Seorang pria menggendong bocah laki-laki melewati rumah-rumah yang hancur setelah gempa di Desa Pegunungan Tafeghaghte, barat daya Marrakesh.

MAROKO, BALI EXPRESS - Sebuah gempa dahsyat dengan kekuatan 6,8 skala Richter telah mengguncang Pegunungan Atlas di Maroko pada Jumat (8/9) pukul 23.11 WIB, mengubah malam menjadi mimpi buruk bagi ribuan penduduk. Mayoritas dari mereka tertidur lelap ketika rumah-rumah mereka runtuh akibat getaran gempa yang mengerikan.

"Saya pikir tempat tidur saya akan terbang. Saya keluar ke jalan setengah telanjang dan segera pergi melihat riad saya," kata Michael Bizet, seorang warga Prancis yang memiliki tiga properti di kota tua Marrakesh. Riad adalah sebutan untuk rumah tradisional di Maroko.

"Situasi itu sangat kacau, bencana nyata, sebuah kegilaan," tambah Bizet.

Kementerian Dalam Negeri Maroko telah mengumumkan bahwa jumlah korban tewas akibat gempa ini mencapai 2.012 orang, sementara lebih dari 2.059 orang mengalami luka-luka, dengan lebih dari 1.400 di antaranya dalam kondisi kritis.

Setidaknya 300 ribu orang terdampak oleh gempa ini, menjadikannya gempa paling mematikan dalam enam dekade terakhir di Maroko.

Gempa susulan dengan kekuatan magnitudo 4,5 masih terjadi kemarin pagi, tetapi seorang profesor geologi, Mohammed bin Makhlouf, menganggapnya sebagai pertanda positif.

"Ketika gempa susulan relatif kuat, berarti aktivitas gempa di suatu wilayah akan berkurang," jelas Makhlouf.

Faktor lain yang menyebabkan tingginya jumlah kematian adalah waktu terjadinya gempa, pada malam hari ketika sebagian besar penduduk sedang tidur. Mayoritas korban berasal dari wilayah pedesaan yang minim aktivitas malam.

Masyarakat Marrakesh masih hidup dalam ketakutan karena adanya gempa susulan yang berlanjut. Banyak yang tidur di jalanan karena rumah mereka telah hancur atau tidak aman.

Sebagai tindakan duka, Raja Maroko Mohammed VI mengumumkan status berkabung selama tiga hari dan memerintahkan seluruh masjid di seluruh negeri menggelar salat jenazah pada Minggu siang.

Beberapa bangunan bersejarah Maroko juga rusak parah akibat gempa ini. Salah satunya adalah Masjid Koutoubia, yang berdiri sejak abad ke-12 di Marrakesh.

Tingkat kerusakan masjid ini masih belum diungkapkan, namun masjid ini adalah landmark terkenal yang sering dikunjungi oleh turis asing. Menara setinggi 69 meter yang sering disebut sebagai atap Marrakesh juga mengalami kerusakan.

Pihak militer Maroko telah membersihkan jalan-jalan menuju lokasi gempa untuk memudahkan pengiriman bantuan dan tim evakuasi.

Namun, tantangan besar dihadapi oleh tim penyelamat dalam menjangkau desa-desa terpencil dan menarik orang-orang yang terperangkap di reruntuhan bangunan.

Republik Ceko dan Spanyol telah mengirimkan tim penyelamat setelah pemerintah Maroko meminta bantuan resmi. Sebanyak 56 tim penyelamat dan 4 anjing pelacak dari anggota Unit Darurat Militer (UME) Spanyol telah diberangkatkan.

Upaya penyelamatan ini sangat penting karena jam-jam pertama setelah gempa adalah kunci untuk menyelamatkan nyawa yang masih terkubur di bawah reruntuhan.

Negara-negara lain, termasuk AS dan Prancis, juga berjanji untuk memberikan bantuan kemanusiaan, tetapi Maroko perlu mengajukan permintaan resmi sebelum bantuan dapat diterima.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan kesiapannya untuk membantu dalam KTT G20 di India.

Tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban gempa ini. Meskipun merasakan getaran gempa, semua WNI di Maroko dikonfirmasi dalam keadaan aman dan sehat.

Editor : I Putu Suyatra
#gempa #maroko