BALIEXPRESS.ID - TikTok kembali menjadi sorotan setelah lebih dari 100 ribu pengguna di Amerika Serikat beralih ke platform pesaing asal Tiongkok, RedNote.
Langkah ini dilakukan setelah TikTok terancam diblokir di Negeri Paman Sam, kecuali perusahaan induknya, ByteDance, menjual aplikasi tersebut.
RedNote, atau yang dikenal di Tiongkok sebagai Xiaohongsu (小红书) yang berarti ‘buku merah kecil’, telah menarik perhatian pengguna TikTok dengan fitur-fitur yang serupa.
Aplikasi ini menggabungkan media sosial dan e-commerce, fokus pada konten gaya hidup, ulasan produk, serta rekomendasi belanja.
Pengguna dapat berbagi pengalaman pribadi, mulai dari ulasan produk, tips perjalanan, hingga tutorial kecantikan.
Fitur-fitur yang dihadirkan RedNote mengingatkan banyak pengguna TikTok, sehingga tidak mengherankan jika semakin banyak orang beralih ke platform ini.
Meningkatnya ketegangan antara pemerintah AS dan TikTok bermula dari kekhawatiran terkait keamanan nasional dan privasi data pengguna.
Pada 2020, pemerintahan Donald Trump memerintahkan TikTok untuk dijual kepada perusahaan AS, mengingat adanya tuduhan bahwa ByteDance, induk perusahaan TikTok, mengancam keamanan negara.
Keputusan ini diperkuat pada April 2024 dengan disahkannya UU pelarangan TikTok.
Dalam UU tersebut, ByteDance diberikan tenggat waktu hingga 19 Januari 2025 untuk menjual TikTok. Jika tidak, TikTok akan diblokir di AS.
Namun, TikTok terus membantah tuduhan tersebut, dengan menyatakan bahwa data pengguna Amerika disimpan di server luar Tiongkok.
Meskipun demikian, situasi terus berkembang dengan adanya penolakan dari Pengadilan Banding AS pada Desember 2024 yang menolak permohonan TikTok untuk memperpanjang waktu terkait keputusan penjualan.
Sementara itu, RedNote menyambut baik lonjakan pengguna yang mulai meninggalkan TikTok.
Dalam dua hari saja, sebanyak 700.000 pengguna baru bergabung, menjadikan RedNote sebagai aplikasi paling banyak diunduh di AppStore AS.
Bahkan, tagar “TikTok Refugee” (#TikTokRefugee) muncul di platform tersebut, dengan lebih dari 63.000 unggahan yang mengajarkan pengguna baru cara menggunakan aplikasi serta frasa dasar dalam bahasa Mandarin.
Jika TikTok benar-benar diblokir di AS pada Januari 2025, lebih dari 100 juta pengguna di negara tersebut akan kehilangan akses ke platform yang telah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Perkembangan ini menimbulkan ketidakpastian yang cukup besar baik bagi pengguna maupun bagi operasi global TikTok.
Semua mata kini tertuju pada Mahkamah Agung AS yang akan memutuskan apakah akan menerima permohonan TikTok untuk membatalkan keputusan penjualan tersebut.
Keputusan tersebut akan menjadi penentu masa depan TikTok di AS dan berpotensi berdampak pada pasar media sosial global.
Sementara itu, RedNote siap memanfaatkan peluang ini, menyambut para pengguna yang ingin melanjutkan aktivitas media sosial mereka di platform yang baru. (*)
Editor : Nyoman Suarna