Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Fenomena Gancet saat Berhubungan Intim: Beda dengan Anjing, Benarkah Terkait Seks Menyimpang?

Rika Riyanti • Minggu, 15 September 2024 | 03:48 WIB

 

Fenomena gancet saat berhubungan intim kerap dikaitkan dengan hal mistis dan seks menyimpang.
Fenomena gancet saat berhubungan intim kerap dikaitkan dengan hal mistis dan seks menyimpang.

BALIEXPRESS.ID - Pernah dengar tentang fenomena gancet? Gancet adalah kondisi di mana penis terjebak di vagina saat berhubungan seksual.

Banyak yang mengaitkannya dengan akibat dari seks menyimpang hingga hal-hal mistis, seperti kutukan atau gangguan makhluk halus. Namun, secara medis, fenomena ini bisa dijelaskan dengan logis.

Menurut dr. Made Oka Negara, M.Biomed, Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Cabang Bali, gancet sebenarnya mirip dengan kondisi yang disebut vaginismus.

Dia mengatakan, gancet pada manusia juga beda dengan yang terjadi pada anjing. 

"Orang sering salah kaprah, mengira gancet mirip dengan kejadian anjing yang terjepit setelah kawin. Pada anjing, memang ada tulang dan kontraksi yang membuat mereka terjebak. Tapi pada manusia, secara normal tidak ada kontraksi besar setelah berhubungan seksual," jelasnya. Dalam beberapa kasus yang langka, kondisi ini mungkin terjadi, tetapi lebih karena trauma atau masalah lain, bukan mistis.

Vaginismus adalah gangguan di mana otot-otot vagina menegang secara tidak terkendali saat penetrasi, terutama di sepertiga bagian luar vagina. "Biasanya, vaginismus terjadi saat perempuan sudah menerima rangsangan seksual, tapi saat penetrasi, tiba-tiba otot-otot di sekitar vagina menegang," tambah dr. Oka.

Kenapa bisa begitu? Vaginismus sering disebabkan oleh berbagai faktor, seperti stres, trauma, atau ketakutan hamil.

"Perempuan yang mengalami vaginismus seringkali tetap punya dorongan seksual, tapi saat terjadi rangsangan di area genital, otot-ototnya langsung kaku," kata dr. Oka. Dia menambahkan bahwa kontraksi biasanya terjadi sebelum penis masuk, bukan setelahnya, meskipun ada beberapa kasus langka yang berbeda.

Faktor-faktor pemicu vaginismus, seperti trauma masa lalu atau pemahaman seksual yang salah, bisa diatasi melalui terapi relaksasi atau bahkan botox untuk melemaskan otot-otot yang kaku.

Namun, menurut dr. Oka, psikoterapi adalah solusi yang paling umum digunakan, dengan fokus pada mencari penyebab ketegangan tersebut.

Selain vaginismus, ada juga kondisi yang disebut dyspareunia, yang menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual, meskipun tidak ada kontraksi otot.

"Meski mirip, dyspareunia tidak melibatkan kontraksi seperti pada vaginismus," jelas dr. Oka.

Untuk menghindari masalah ini, penting untuk tidak mengabaikannya. Hubungan seksual yang sehat dan dinikmati oleh kedua belah pihak sangat penting untuk kualitas hidup yang baik.

"Kualitas hidup yang baik juga tergantung pada kualitas hubungan seksual yang sehat antara pasangan," tutup dr. Oka. ***

Editor : Y. Raharyo
#hubungan intim #gancet