Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nutrisi dan Gaya Hidup Sehat Kunci Mengatasi Tuberkulosis (TB)

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 19 November 2024 | 19:40 WIB
ilustrasi Tuberkolosis.
ilustrasi Tuberkolosis.


BALIEXPRESS.ID - Pemenuhan nutrisi yang baik dan gaya hidup sehat menjadi langkah penting dalam mengatasi penyakit tuberkulosis (TB).

Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Paru RSPI Bintaro, Dr. Raden Rara Diah Handayani, Sp.P(K) yang dilansir dari antaranews.com, menekankan pentingnya pengobatan yang terpantau oleh dokter guna meningkatkan sistem imun tubuh pasien.

“Pemberian obat-obatan untuk meningkatkan imun tubuh harus dilakukan di bawah pengawasan dokter, karena kondisi pasien sangat memengaruhi efektivitas pengobatan,” ujar Dr. Raden dalam keterangannya, Senin (19/11/2024).

Ia menambahkan, individu dengan kekebalan tubuh rendah, seperti anak-anak di bawah lima tahun, lebih berisiko mengalami TB berat. Sedangkan pada individu dengan imunitas baik, langkah pencegahan perlu diutamakan untuk mencegah reaktivasi infeksi menjadi TB aktif.

Data menunjukkan, sekitar 30-50 persen orang yang tinggal serumah dengan pasien TB telah terinfeksi TB laten, dan 10-15 persen di antaranya berisiko berkembang menjadi TB aktif. Risiko ini meningkat pada penderita HIV tanpa pengobatan, diabetes yang tidak terkontrol, malnutrisi, perokok, dan pengguna alkohol.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan Terapi Pencegahan TB (TPT) bagi orang yang terpapar pasien TB dan telah terinfeksi TB laten. Terapi ini melibatkan berbagai opsi pengobatan, seperti:


- Kombinasi rifampentin dan isoniazid selama tiga bulan (3HP)
- Isoniazid selama enam bulan (INH 6 bulan)
- Rifampisin dan isoniazid selama tiga bulan (3HR)

“Selain terapi pencegahan, menjaga kesehatan tubuh aktif juga sangat penting. Pola makan bergizi, menghentikan kebiasaan merokok, istirahat cukup, dan olahraga teratur adalah langkah pencegahan utama,” jelas Dr. Raden.

Ia juga menyarankan pengelolaan penyakit penyerta, seperti diabetes melitus dan HIV, untuk mendukung keberhasilan pengobatan.


Pasien yang terdiagnosis TB aktif umumnya menjalani pengobatan selama enam bulan, terbagi dalam dua tahap. Tahap intensif dilakukan selama dua bulan dengan kombinasi obat rifampisin, isoniazid, etambutol, dan pirazinamid (RHZE). Setelah itu, dilanjutkan tahap lanjutan selama empat bulan dengan rifampisin dan isoniazid (RH).

Dr. Raden juga menyoroti pentingnya nutrisi selama pengobatan untuk mendukung pemulihan tubuh.


Dalam penelitian terbaru, Prof. Raymond Tjandrawinata, farmakolog molekuler, memaparkan manfaat imunomodulator berbahan tanaman meniran hijau (Phyllanthus niruri) pada pasien TB. Hasil uji klinis menunjukkan perbaikan klinis, seperti konversi sputum BTA, dan peningkatan kondisi paru-paru melalui pemeriksaan radiologi.

Dengan pendekatan komprehensif yang mencakup pengobatan, pencegahan, dan perbaikan gaya hidup, diharapkan penanganan TB dapat lebih optimal, sehingga angka penyebaran penyakit ini dapat ditekan. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#nutrisi #sehat #tuberkolosis #hiv #gaya hidup #tb