BALIEXPRESS.ID - Penyakit tumor otak ternyata tidak dapat dianggap remeh.
Hal ini lantaran gejala penyakit ini sulit atau bahkan tidak terdeteksi dengan mudah, sebab memerlukan skrining rutin.
Bahkan jika telah diobati penyakit ini pun ternyata sulit disembuhkan, lantaran ada kemungkinan tumbuh kembali.
Baca Juga: Ni Putu Meilanie Ary Sandi, Kartini Gen Z Asal Baturiti Yang Lebih Suka Menjadi Petani
Tumor otak pun menjadi materi penting yang disampaikan oleh dr. Steven Awyono, Sp.BS,FTO, yang merupakan Dokter spesialis bedah saraf Kasih Ibu Hospital Kedonganan.
Dirinya pun mengajak khalayak luas untuk bersama memahami penyakit ini dari awal muncul hingga penanganan yang dapat dilakukan.
dr. Steven mengatakan, tumor otak adalah penyakit yang 100 persen dapat dicegah.
Hal ini lantaran penyebab dari munculnya penyakit ini sampai saat ini belum jelas.
Gejala umunya penyakit ini adalah sering sakit kepala, namun ada juga yang tidak memiliki hal tersebut namun terdeteksi tumor otak.
“Untuk tumor otak itu sendiri, saat gejala itu muncul, tergantung. Apabila dia ada di lokasi yang penting, ukurannya masih kecil, cepat berarti dalam waktu 6 bulan dari muncul atau 1 tahun biasanya dia sudah tampak. gejalanya itu kalau kita sebut soft symptom, dia abu-abu sekali. Dan yang sering muncul itu adalah gangguan kepribadian yang tadi saya sampaikan,” ujarnya.
Dirinya pun menyatakan, gejala penyakit ini hanya dapat diketahui oleh orang terdekat dari penderita.
Hal ini pun disebutkan, yang menyebabkan keterlambatan pasien-pasien itu datang untuk berobat.
Bahkan kebanyakan kasus tumor otak baru diketahui saat terjadi kecelakaan yang menyebabkan adanya benturan kepala.
Saat dilakukan CT scan untuk melihat adanya pendarahan atau tidak, ternyata yang terlihat ada tumor otak.
Biasanya saat ditemukan, para dokter akan menggali informasi dari pasien, utamanya terkait gejala yang timbul akibat adanya sel tumor di salah satu bagian otak.
Misalkan saat lokasinya di bagian otak yang mempengaruhi penglihatan, maka akan dilakukan pencocokan dengan pasien.
Setelah dipastikan benjolan tersebut adalah tumor otak baru lah akan dilakukan tindakan pengobatan.
“Yang kedua kita lihat ukuran. Kalau memang dia gejalanya nol sama sekali tidak ada dengan ukuran yang kecil, berarti dia benar-benar incidental finding. Yang perlu dilakukan adalah surveillance atau berkelanjutan dilakukan serial imaging, ya. Itu bisa. Atau kalau-kalau ternyata pasiennya datang sama kayak tadi, terus kita cari ternyata ukurannya sudah besar walaupun dengan gejala yang minimal, kita akan sarankan tindakan operasi,” jelas lulusan dokter spesialis bedah saraf Universitas Udayana tersebut.
Sayangnya pengobatan tidak hanya selesai dengan operasi saja, dr. Steven pun menyebutkan, tumor otak masih dapat muncul dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun pasca pengobatan melalui operasi, pemberian obat kemo, dan radioterapi.
"Saya nggak bilang 100 persen tapi 90-95 persen dia akan berkembang. Entah dalam waktu 10 sampai 15 tahun dia naik misalkan dari grade 2 jadi kakaknya grade 3. Kita lakukan lagi nih pengobatan baik dengan operasi dan lain sebagainya, berkembang lagi nih nanti jadi kakaknya yang paling atas, grade 4, ya. Jadi itu kesusahan kita memang untuk menangani tumor otak,” paparnya.
Lalu bagaimana untuk melakukan penanganan lebih dini, Dirinya pun memastikan harus dilakukan skrining terhadap penyakit tersebut.
Deteksi dini yang terbaik pun sebaiknya dilakukan saat usia di atas 40 tahun.
Namun permasalahannya adalah biaya yang dibutuhkan sangat besar.
“Oleh karena itu, kita harapkan dari support dari pemerintah terkait skrining dengan masalah di otak itu sendiri, baik tumor otak, stroke penyumbatan,” imbuhnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga