Penyakit Kusta atau dikenal juga dengan nama Lepra dan Morbus Hansen merupakan penyakit granulomatosa kronik yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae. Mycobacterium leprae ditemukan oleh G.A. Hansen pada tahun 1874 di Norwegia. Mycobacterium leprae dapat menyerang saraf perifer, kulit, mukosa saluran napas bagian atas, serta jaringan tubuh lainnya, kecuali sistem saraf pusat
Jumlah kasus kusta di seluruh dunia selama 12 tahun terakhir ini telah menurun tajam di sebagian besar negara atau wilayah endemis. Namun, saat ini Indonesia masih merupakan salah satu negara penyumbang penyakit kusta terbesar di dunia. Distribusi tidak merata, yang tertinggi ada di Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Prevalensi pada tahun 2008 per 10.000 penduduk adalah 0,73
Penderita lepra adalah seseorang dengan lesi pada kulit berupa patch yang terasa baal. Patch pada lepra umumnya diawali dengan bercak putih (hipopigmentasi) atau eritema, datar atau meninggi, tidak gatal dan nyeri, serta dapat muncul di mana saja di seluruh bagian tubuh. Penderita kemudian akan mengalami gangguan sensibilitas terhadap rangsang raba, nyeri, maupun suhu (panas dan dingin) pada lesi kulit yang dicurigai tersebut.
Menurut WHO (1981) lepra dibagi menjadi Pausibasilar (PB) dan multibasilar (MB). Pembagian penyakit ini diperlukan dalam penentuan jenis obat dan lama pengobatan yang diberikan. Lepra Pausibasiler memiliki karakteristik berupa bercak 1-5 pada kulit, bercak bisa didapatkan pada kedua sisi tubuh disertai hilangnya sensasi rasa yang jelas pada kulit. Lepra multibasiler, memiliki bercak >5 pada kedua sisi tubuh dan hilangnya sensasi rasa yang kurang jelas. Pengobatan yang diberikan untuk jenis pausibasiler yaitu Rifampisin dan dapson selama 6 bulan. Lepra multibasiler diberikan Rifampisin, Dapson dan klofazimin selama 12 bulan. Pengobatan ini tidak boleh terputus dan dalam pengawasan dokter.
Diagnosis dini dan terapi yang tepat adalah kunci keberhasilan untuk mengendalikan penyakit infeksi ini. Tujuan utama terapi adalah memutuskan mata rantai penularan untuk menurunkan insidensi penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita, mencegah timbulnya penyakit. (*)
Editor : I Putu Suyatra