KAMIS, 7 Maret 2019 mendatang adalah perayaan tahun baru Saka 1941 yang dikenal dengan hari raya Nyepi. Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang dirayakan dengan berbagai kesenangan, Nyepi justru (seharusnya) dirayakan dengan menghentikan sejenak segala rutinitas, memberi jeda dalam kehidupan, seperti tanda koma dalam rangkaian kata.
Di Bali lebih dikenal sebagai Brata Panyepian. Brata berarti berpantang, sinonimnya adalah pengekangan, pengendalian atau puasa, sedangkan Panyepian berarti menyepi. Dalam Lontar Sunarigama dijelaskan perihal Nyepi sebagai berikut:
“…..benjangnya Nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya skaluirya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang weruh ring tattwa gelarakena semadi tapa yoga ametitis kasunyatan.”
Artinya:
“…..besoknya adalah Nyepi dengan tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, apapun yang berhubungan dengan api itu tidak boleh, apalagi orang yang telah mengerti tentang ajaran suci, justru melakukan samadhi, tapa, yoga merealisasi kesempurnaan.”
Pada suntingan teks di atas, jelas ditekankan segala aktivitas yang berhubungan dengan api pada saat Nyepi pantang untuk dilakukan. Dalam hal ini dimaksudkan agar orang-orang secara sadar melatih diri untuk mengurangi unsur api dalam kehidupan individualnya. Pelatihan diri adalah brata itu sendiri. Api tidak semata-mata berarti hasil proses kimiawi seperti api kompor, api di sini memiliki berbagai arti diantaranya adalah energi (kalor), luapan emosi (marah, sedih, senang) dan perilaku negatif.
Apabila dijalani dengan benar, Brata Panyepian adalah sebuah metode pengembangan diri yang sangat baik. PHDI telah mengembangkan metode pelatihan diri ini yang disebut dengan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelanguan, dan Amati Lelungan.
Amati Geni, tidak menyalakan api dan berusaha memadamkan api yang sedang menyala. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, api yang dimaksud bukan hanya api dalam bentuk fisik, tetapi juga energi, bentukan emosi dan perilaku yang selalu menyala dalam diri. Api fisik berupa api kompor dapat dipadamkan dengan segera, namun api batin dan api pikiran tidak semudah itu dipadamkan. Api batin adalah luapan-luapan emosi positif maupun negatif, begitu juga api pikiran berupa ide-ide atau inspirasi dan prasangka. Batin dan pikiran sama seperti api, menyala kemudian padam, menyala lagi padam lagi, sifatnya tidak kekal.
Api batin dan api pikiran akan padam dengan sendirinya apabila seseorang mampu berhenti terlibat di dalamnya. Pikiran positif muncul, biarkan saja, pikiran negatif muncul, biarkan saja, rasa senang muncul, biarkan saja, rasa sedih muncul, biarkan saja, termasuk rasa takut, bosan, dsb. Berbagai bentuk pikiran dan perasaan yang muncul, cukup dibiarkan, jangan merespon dan jangan terlarut di dalamnya maka fenomena itu akan hilang dengan sendirinya. Buah dari latihan Amati Geni ini adalah rasa tentram, damai.
Amati Karya, tidak bekerja, berarti tidak menjadi aktif untuk sementara waktu secara fisik dan pikiran. Seluruh energi disimpan, tidak ada ide yang dituangkan, itu artinya semaksimal mungkin mengurangi reaksi diri terhadap rutinitas. Satu-satunya yang aktif saat brata penyepian hanyalah kesadaran. Sadar berarti tidak pingsan, tidak terlelap, tidak melamun, tidak tergerak oleh keinginan, dan juga tidak lupa karena tidak ada yang perlu diingat. Buah dari latihan Amati Karya ini adalah kemampuan mengontrol diri semakin baik.
Amati Lalanguan, tidak bersenang-senang, berarti tidak secara sengaja mencari objek atau melakukan tindakan yang dapat memicu kesenangan. Kesenangan dan kesedihan hanyalah konsep dari pengalaman hidup seseorang, maka dari itu apa yang dapat menyenangkan diri sendiri belum tentu menyenangkan bagi orang lain, sangat relatif. Mencari kesenangan dan menjauhi penderitaan adalah naluri dasar manusia. Naluri bersifat kurang sadar, karena bersifat alamiah, seperti refleks.
Meski demikian, naluri dapat dilatih bahkan disadari sepenuhnya dalam diri. Dengan tidak mencari kesenangan, maka kesadaran diri akan meningkat karena mampu menyadari naluri. Menyadari bahwa senang dan sedih hanyalah konsep khayal yang dibentuk pikiran dan memiliki batas, maka seseorang akan menjadi lebih bijaksana dalam mengelola emosi dan pikirannya. Buah dari latihan Amati Lalanguan ini adalah kebijaksaan terhadap diri sendiri.
Amati Lalungan, tidak bepergian, berarti tidak secara sengaja mencari sesuatu yang dapat mengganggu fisik dan ketenangan pikiran. Dengan menarik diri dari pengaruh-pengaruh luar, seseorang dapat fokus menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam diri tanpa perlu lagi di picu oleh pengaruh-pengaruh dari luar. Dengan cara demikian, latihan dapat menjadi efektif dan efisien. Buah dari latihan ini adalah keteguhan dan kesabaran diri.
Selain empat metode latihan dalam Catur Brata Panyepian tadi, brata juga berarti puasa, yaitu puasa makan dan minum. Pada setiap agama besar di dunia umumnya memiliki metode latihan diri sejenis berpuasa, meskipun tidak semua menyebutnya dengan istilah puasa. Dalam pandangan psikologis dan medis, puasa merupakan salah satu latihan yang sangat bermanfaat. Secara psikologis, sifat asli seseorang akan muncul apabila mereka dalam kondisi lapar. Mudah marah, malas, mudah menyerah dan sebagainya akan muncul apabila seseorang kelaparan. Berbeda halnya saat kondisi kenyang atau belum lapar. Yang namanya latihan tentu memerlukan objek latihan, dengan berpuasa seseorang diajak mengetahui sifat aslinya sendiri dan memperbaikinya. Secara medis, berpuasa secara rutin membuat tubuh memiliki kesempatan beristirahat dan membersihkan sisa-sisa metabolisme yang menumpuk.
Jadi, melaksanakan Nyepi tidak hanya sekadar mematikan lampu, tidak menonton TV atau tidak online internet, tetapi lebih pada mengenali diri dan melatihnya. Cobalah sekali saja serius memahami diri sendiri, dengarkan bahasa hati yang halus membimbing dari dalam. Semakin gejolak pikiran dan perasaan dilemahkan, maka suara purba tersebut akan semakin jelas terdengar, itulah Siwa. Siwa dalam Dewata Nawa Sanga ada di tengah, tengah adalah diri kita sendiri. Siwa ada di dalam, sangat dalam sehingga kita perlu menembus pembungkusnya yaitu tubuh, pikiran dan perasaan.
Di luar, Siwa distanakan di Pura Dalem yang selalu berdampingan dengan kuburan. Kuburan bermakna hancurnya pembungkus jiwa yang murni. Siwa selalu membimbing dan sangat khas, maka disebut sebagai Bhatara Guru. Suara-Nya akan terdengar apabila kita memadamkan suara-suara yang lain sehingga menjadi sepi. Inilah hakikat Nyepi, setahap demi setahap menyadari keberadaan Siwa dalam diri.
*)Penulis dan Dosen di IHDN Denpasar
Editor : hakim dwi saputra