Dekatnya Pemilihan Umum 2024 mendorong tim Cyber Troops Polri untuk intensif mengawasi media sosial, terutama buzzer yang menyebarkan isu-isu ujaran kebencian, radikalisme, dan intoleransi. Langkah ini diambil untuk mencegah eskalasi ketegangan sosial yang dapat timbul akibat kampanye pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Tim Cyber Patrol Polri telah mengidentifikasi beberapa akun dan grup Facebook di Buleleng yang aktif dalam menyebarkan isu politik. Meskipun masih dalam batas wajar, Polri lebih prihatin terhadap gerakan kelompok terorisme dan radikalisme yang memanfaatkan Pemilu serta isu perang Hamas dan Israel.
Dalam sebulan terakhir, Densus 88 berhasil menangkap 59 terduga teroris dengan barang bukti senjata api dan bahan peledak. Polri mengajak media untuk memberikan informasi seimbang dan menyejukkan, serta mengimbangi konten yang dapat menenangkan pembaca.
Satgas Operasi Madago Raya Polda Sulawesi Tengah aktif melibatkan masyarakat dan santri di Pondok Pesantren Al-Izzah As’adiyah Tolai dalam upaya menangkal radikalisme dan intoleransi menjelang Pemilu 2024 melalui tabligh akbar. Tujuannya adalah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Provinsi Sulawesi Tengah.
Kapolresta Cilacap, Kombes Pol Fannky Ani Sugiharto, mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mencegah intoleransi dan radikalisme, khususnya di Kabupaten Cilacap. Wawasan kebangsaan, dengan empat pilar utama, dianggap sebagai penyangga agar masyarakat merasa aman dan nyaman.
Fannky berharap masyarakat menciptakan wilayahnya yang aman dan kondusif, menjaga kerukunan antar umat beragama, dan meningkatkan toleransi. Dalam menghadapi Pemilu, di mana suhu politik meningkat, sinergitas antara aparat negara dan unsur masyarakat menjadi kunci.
Asisten Kapolri Irjen Dedi Prasetyo merilis buku berjudul 'Radikalisme, Terorisme, dan Deradikalisasi di Indonesia' sebagai bagian dari upaya cooling system menjelang Pemilu 2024. Penguatan ideologi Pancasila diakui sebagai solusi terbaik dalam menangani radikalisme dan ekstremisme, baik di Indonesia maupun secara global.
Pentingnya sinergitas antara aparat negara, tokoh agama, lembaga pendidikan berbasis agama, dan pengurus rumah ibadah dalam mencegah penyebaran radikalisme diakui. Selain itu, memberikan ruang kegiatan positif dan meningkatkan cinta tanah air dianggap sebagai langkah efektif.
Sejumlah pelajar dan mahasiswa di Banjarmasin mengadakan festival musik "Aksi Musik Anak Bangsa, Asik Bang" sebagai upaya pencegahan radikalisme. Melalui event ini, diharapkan dapat meningkatkan kebersamaan, bakat seni, dan sikap toleransi, khususnya di Kalimantan Selatan yang memiliki potensi radikal sebesar 10,2 persen pada 2022.
Dengan menggabungkan seni dan pendidikan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme berusaha mencegah generasi muda terpapar radikalisme dan terorisme. Festival musik ini diharapkan menjadi sarana positif untuk menghadapi potensi radikalisme, dengan fokus pada peserta dari sekolah lintas agama di Kalimantan Selatan. (*)
Penulis, Rivka Mayangsari, adalah Pemerhati Sosial dan Budaya.