Waspada Hoaks dan Provokasi Menuju Pemilu 2024: Kunci Literasi Digital
I Putu Suyatra• Senin, 25 Desember 2023 | 17:13 WIB
Hoaks Mengganggu dan Menghambat Penanganan Covid-19
Dekatnya Pemilu 2024 menantang masyarakat Indonesia dengan ancaman hoaks dan isu SARA. Literasi digital menjadi senjata utama untuk mengatasi arus informasi palsu yang dapat mengganggu stabilitas sosial dan politik. Dewi Sartika, Pendamping UMKM Juara Jawa Barat, menyoroti cepatnya penyebaran hoaks di era digital. Dalam kegiatan literasi digital daring pada 14 Desember 2023, ia menggarisbawahi pentingnya berpikir kritis.
Kesadaran untuk tidak mudah percaya pada setiap informasi menjadi krusial, dengan berpikir kritis dianggap sebagai langkah awal yang sangat penting. Masyarakat diharapkan mengembangkan keterampilan untuk tidak impulsif menerima berita, mengutamakan proses verifikasi sebelum menyebarkannya.
Dewi Sartika memberikan panduan praktis untuk mengidentifikasi hoaks, termasuk judul provokatif, ajakan menyebarkan, dan susunan kalimat tidak terstruktur. Selektivitas dalam memilih dan membagikan informasi dianggap sebagai cerminan kualitas kepribadian seseorang, yang dapat mencegah penyebaran informasi palsu.
Rosalina Anggraeni, Presiden Teman Bisnis Indonesia, mengidentifikasi isu SARA sebagai zona risiko jelang Pemilu 2024. Rosalina menekankan pentingnya menghindari isu SARA dan menolak tindakan diskriminatif. Menanggapi risiko ini, diskusi yang fokus pada argumen fakta dan kebijakan, dengan penerapan moral dan adab, dianggap penting.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berupaya memperkuat literasi digital melalui program "Indonesia Makin Cakap Digital" untuk mengajarkan masyarakat memahami dan mengkritisi informasi serta menghindari penyebaran hoaks. Data Kemenkominfo mencatat 96 hoaks terkait Pemilu 2024 tersebar dalam 355 konten di berbagai media sosial, dengan Facebook sebagai platform utama. Tindakan preventif telah diambil terhadap 290 konten.
Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana menyoroti besarnya tantangan menghadapi informasi palsu. Hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi merajalela di media sosial menjelang Pemilu. Nana Sudjana menekankan peran media dan masyarakat dalam klarifikasi informasi yang tidak benar, mengajak semua pihak berkontribusi menjaga integritas informasi.
Komunitas Literasi Digital Sapunyere menjadi garda terdepan melawan hoaks dan isu SARA. Dalam acara "Stop! Hoaks dan SARA Jelang Pemilu 2024," Dadi Munardi, Ketua Komunitas Sapunyere, menegaskan pentingnya literasi digital dalam mencegah penyebaran hoaks dan isu SARA.
Dengan dinamika menjelang Pemilu 2024, kewaspadaan dan keterampilan literasi digital tetap kunci utama. Penguatan literasi digital perlu menjadi prioritas bersama agar masyarakat lebih cerdas dalam menyikapi informasi di dunia maya. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga literasi digital, media, dan masyarakat menjadi pondasi kuat untuk menciptakan suasana Pemilu yang aman, terbuka, dan berkeadilan.
Dalam menghadapi risiko hoaks dan isu SARA, peran aktif masyarakat sangat diperlukan. Dengan keterampilan literasi digital yang kuat, masyarakat dapat menjadi filter informasi yang baik, menjaga integritas proses demokrasi. Penguatan literasi digital, diskusi produktif, dan partisipasi aktif dalam melaporkan informasi palsu menjadi tonggak keberhasilan menjaga kondusifitas dan integritas Pemilu 2024. Bersama, mari menjadi penjaga kebenaran dan menjadikan Pemilu 2024 contoh demokrasi yang matang dan bermartabat. (*)