Perayaan Hari Suci Nyepi tahun ini serasa spesial. Nyepi pada tahun 2024 bertepatan dengan tahun saka 1946. Perayaan Nyepi tahun ini dilaksanakan setelah hajatan demokrasi Bernama Pemilihan Umum.
Pemilu sebagai proses memilih pemimpin baik jenjang DPRD Kabupaten, DPRD Prvinsi, DPD RI, DPR RI, hingga Presiden dan Wakil Presiden. Pemilu tak bisa dipungkiri meninggalkan residu politik yang harus direcovery. Jika tidak dilakukan, tentu kohesi sosial semakin melemah.
Perayaan Nyepi Saka 1946 inilah momentumnya. Bagaimana tidak, Nyepi bukan hanya tentang ogoh-ogoh, mecaru dan perayaan semata. Nyepi adalah momentum penting bagi umat Hindu untuk berkontemplasi dan merenung atas segala aspek yang mesti diilhami terlebih pasca pemilu.
Mulai dari merenungi perbuatan-perbuatan yang telah dilaksanakan, hingga hal-hal yang bisa diperbaiki untuk selanjutnya tidak terulang kembali di kehidupan yang akan datang. Nyepi harus dimaknai mengikatkan spirit menyama braya pasca hajatan pemilu. Jangan sampai usai tawur Agung malah menjadi Tawuran (kericuhan) karena pengumuman hasil pemilu.
Nyepi juga bukan hanya sebatas ramai riuh di luaran dengan berbagai atraksi ritual dan upacara agama, tetapi kosong dan hampa dalam hati. Sejatinya, keramaian di luar juga harus diimbangi dengan ramai di dalam. Ramai di dalam harus diisi dengan diskusi dan dialektika dengan diri sejati. Menanyakan kembali sudahkah kita merdeka dari berbagai belenggu yang selama ini menginvasi jiwa.
Berbicara mengenai belenggu, tentu musuh terbesar dalam diri manusia adalah sad ripu. Sad ripu disebut enam musuh yang harus dikendalikan. Saya lebih senang menganalogikan dengan kata mengendalikan, bukan menghilangkan karena mustahil sifat-sifat tersebut dalam dihilangkan. Bagaikan unsur kimiawi. Antara sifat baik dan buruk dalam diri manusia tetaplah harus eksis, namun, dengan kadar tertentu sesuai standarisasi dan kebutuhan.
Lebih spesifik lagi, adapun inang yang menjadi sumber sad ripu adalah keterikatan. Pertama yang harus dikendalikan adalah keterikatan kita terhadap hal-hal duniawi. Keterikatanlah yang menjadi pemicu munculnya berbagai musuh-musuh dalam diri.
Keterikatan terhadap hal-hal material pertama akan memicu munculnya hawa nafsu. Sifat hawa nafsu membuat suara hati dan jiwa tertutup dan tak terdengar. Ibarat kereta, roh individu ibarat penumpang kereta, badan ibarat keretanya, kecerdasan berperan sebagai kusir, pikiran sebagai tali kendali, dan lima indria sebagai lima ekor kuda penarik kereta.
Nafsu membuat sang kusir (kecerdasan) seakan menjadi tuli dan buta. Bayangkan saja jika sang kusir tak dapat mendengar dan melihat apa-apa. Kemana kereta akan dibawa oleh kuda-kuda tersebut.
Catur brata penyepian pada tahun ini harus dimaknai secara lebih mendalam sebagai momentum memerdekakan jiwa dari cengkraman keterikatan. Catur brata adalah fase menghubungkan diri dengan sang maha pencipta atau yoga.
Dalam catur brata pikiran mencoba memikirkan satu objek, menahan dirinya pada satu titik tertentu, seperti dan jika pikiran berhasil menerima imaji hanya melalui bagian tubuh itu, dan tidak melalui bagian lain, itu adalah Dharana, dan ketika pikiran berhasil menjaga dirinya dalam keadaan damai untuk beberapa waktu, itu disebut Dhyana.
Bhagawad Gita menjelaskan bahwa pikiran adalah kawan yang paling baik bagi orang yang sudah menaklukkan pikiran; tetapi bagi orang yang gagal mengendalikan pikiran, maka pikirannya akan tetap sebagai musuh yang paling besar.
Kaitan dengan hal tersebut, pikiran akan menjadi musuh paling besar jika berkompromi dengan keterikatan. Nyepi tahun ini sudah seharusnya menjadi momentum kemerdekaan dari keterikatan itu.
Hal tersebut harus diperjuangkan. Sama dengan para pahlawan kita yang telah memerdekakan bangsa ini dari perjuangan panjang masa lalu. Selamat hari suci Nyepi tahun baru saka 1946. (*)
Oleh: Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd (Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja)