Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) terus berkomitmen memberdayakan masyarakat Aceh melalui pelatihan dan pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu program unggulannya saat ini adalah pengembangan UMKM kriya anyaman bili droe di Aceh Besar. Program ini bertujuan melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan nilai jual kerajinan agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Produk kriya anyaman bili, yang dibuat dari tanaman bemban, telah lama menjadi bagian kehidupan masyarakat Aceh. Sebelumnya, produk ini hanya berfungsi sebagai alat sederhana seperti bakul besar untuk takaran zakat atau keperluan pertanian. Kini, AMANAH berusaha mengembangkan produk tersebut menjadi lebih bernilai dengan desain inovatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar modern.
Untuk mendukung pengembangan ini, AMANAH bekerja sama dengan desainer produk dari Rumpun Gagas Unggul, Iman Setiobudy. Iman berkomitmen membantu para pengrajin mengembangkan produk turunan dari anyaman bili tanpa meninggalkan nilai tradisional. Dengan sentuhan modern, anyaman yang sebelumnya hanya digunakan untuk membuat ayakan beras atau pot bunga kini diarahkan ke pasar yang lebih luas dan modern.
Iman menjelaskan, tanaman bili memiliki banyak keunggulan, termasuk kelenturan kulitnya yang mirip rotan dan ketersediaannya yang melimpah di Aceh. Dengan semakin tingginya permintaan akan produk ramah lingkungan, produk kriya berbahan bili memiliki potensi besar di pasar global. Oleh karena itu, pelatihan yang diberikan AMANAH juga mencakup strategi pemasaran efektif agar produk-produk ini bisa diterima di pasar yang lebih luas.
Iman juga mengapresiasi semangat AMANAH dalam mendukung UMKM Aceh. Menurutnya, pendampingan ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan memberdayakan pengrajin agar lebih mandiri. Dengan dukungan berkelanjutan, para pengrajin tidak hanya meningkatkan keterampilan tetapi juga bersaing di pasar internasional.
Salah satu pengrajin lokal, Ibu Sri, menyampaikan bahwa anyaman bili sebelumnya hanya digunakan untuk membuat bakul besar (katinale) yang dibeli oleh tengkulak. Namun, sejak didukung oleh Disperindag pada 1981 dan AMANAH baru-baru ini, produk ini terus berkembang. Dukungan AMANAH melalui pelatihan dan pendampingan telah menambah wawasan Ibu Sri tentang desain dan pemasaran produk, sehingga berharap program ini akan terus berlanjut.
Dukungan AMANAH sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo yang fokus pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui pengembangan sektor UMKM. Program ini menjadi langkah konkret mewujudkan komitmen tersebut, di mana pengrajin lokal mendapatkan pelatihan teknis dan akses ke pasar nasional dan internasional. Dengan berkembangnya UMKM kriya anyaman bili, diharapkan ekonomi lokal Aceh tumbuh lebih pesat dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi nasional.
AMANAH berkomitmen melanjutkan program pemberdayaan UMKM dan berkolaborasi dengan desainer serta pemasar untuk memastikan produk kriya lokal dapat bersaing di pasar modern. Dengan demikian, produk anyaman bili dapat menjadi simbol kebangkitan ekonomi Aceh yang mandiri dan berkelanjutan.
Oleh: Cut Putri Mariska (Penggiat Usaha Kerajinan)
Editor : I Putu Suyatra