Danantara: Pilar Baru Pengelolaan Aset Negara Secara Strategis, Transparan, dan Profesional
I Putu Suyatra• Jumat, 2 Mei 2025 | 13:20 WIB
ilustrasi
Indonesia resmi memasuki era baru dalam pengelolaan aset negara melalui pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Kehadiran Danantara bukan hanya sebagai lembaga administratif semata, melainkan menjadi tonggak penting dalam strategi nasional untuk mengelola dan mengoptimalkan aset negara secara lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Konsolidasi Aset BUMN Menuju Efisiensi Nasional
Danantara dirancang untuk mengonsolidasikan dan mengelola lebih dari 844 entitas BUMN, termasuk induk, anak, cucu, hingga cicit perusahaan yang selama ini berjalan terpisah tanpa sinergi. Dengan pendekatan ini, Danantara menghadirkan efisiensi tata kelola sekaligus membuka peluang investasi strategis berskala besar. Inisiatif ini sekaligus menjadi jawaban atas masalah klasik seperti tumpang tindih kewenangan dan pengelolaan aset negara yang belum optimal.
Lompatan Baru: Aset Negara Dikelola Profesional di Luar APBN
Salah satu terobosan penting adalah pemisahan pengelolaan aset negara dari skema belanja negara (APBN). Ini memungkinkan Danantara mengelola aset secara independen dan menghasilkan nilai tambah ekonomi nyata. Presiden Prabowo Subianto menyebut potensi kekayaan yang dikelola Danantara bisa mencapai USD 1 triliun, jika dijalankan dengan sistem transparan dan akuntabel—sebuah angka yang sangat realistis jika melihat nilai aset awal yang telah dikonsolidasikan.
Dampak Langsung: Investasi Masif dan Jutaan Lapangan Kerja
Target Danantara tidak main-main. Pemerintah menargetkan penciptaan tiga juta lapangan kerja, investasi senilai USD 618 miliar, dan peningkatan kontribusi terhadap PDB hingga USD 235,9 miliar. Angka ini mempertegas peran Danantara sebagai mesin penggerak ekonomi baru yang berperan penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global.
Kunci Sukses: Tata Kelola dan Profesionalisme Tanpa Intervensi Politik
Keberhasilan Danantara sangat bergantung pada integritas manajemen dan tata kelola yang bebas dari intervensi politik. Presiden Prabowo menegaskan perlunya menghapus praktik lama yang tidak efisien dan menerapkan meritokrasi dalam penunjukan pimpinan Danantara. Evaluasi menyeluruh terhadap direksi BUMN juga menjadi bagian penting untuk menjamin keberhasilan jangka panjang.
Belajar dari Superholding Dunia: Temasek dan Khazanah sebagai Referensi
Menurut ekonom Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia, agar Danantara sejajar dengan Temasek (Singapura) dan Khazanah Nasional (Malaysia), empat hal utama wajib diterapkan: independensi manajerial, transparansi dan akuntabilitas, kejelasan mandat, serta diversifikasi portofolio. Danantara diharapkan menjadi active investor yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, bukan sekadar pengelola aset pasif.
Mengemban Amanat Konstitusi: Aset Negara untuk Kesejahteraan Rakyat
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa lembaga ini dibentuk bukan untuk tunduk penuh pada mekanisme pasar, melainkan untuk mengawal pembangunan nasional sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945. Dengan pendekatan gotong royong dan kerja sama, Danantara menjadi wujud nyata kedaulatan ekonomi nasional yang berpihak kepada rakyat.
Reformasi Birokrasi dan Budaya Kerja: Modern, Inklusif, dan Berbasis Kompetensi
Danantara membuka ruang selebar-lebarnya bagi talenta profesional dari berbagai latar belakang, tanpa diskriminasi. Proses rekrutmen berbasis kompetensi dan dedikasi terhadap kepentingan bangsa menjadi fondasi penting dalam membentuk budaya kerja baru yang adaptif, efisien, dan progresif.
Model Ideal Pengelolaan Aset Negara di Masa Depan
Sebagai role model baru pengelolaan aset negara, Danantara diharapkan tidak hanya mencetak keuntungan finansial, tetapi juga menjadi panutan tata kelola institusi publik yang bersih dan profesional. Nama “Danantara” mencerminkan visinya: menjadi kekuatan penggerak energi ekonomi bangsa secara berkelanjutan dan inklusif.
Kesimpulan: Danantara, Simbol Kebangkitan Ekonomi Nasional
Pada akhirnya, Danantara adalah representasi tekad Indonesia untuk berdikari secara ekonomi. Keberhasilan badan ini akan ditentukan oleh kemampuannya menyeimbangkan antara kepentingan negara dan pasar, antara efisiensi bisnis dan keadilan sosial. Maka, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci agar visi besar ini tidak berhenti di atas kertas, melainkan menjadi kenyataan demi masa depan Indonesia yang lebih sejahtera dan berdaulat. ***
Oleh: Ratna Sari Dewi (Penulis adalah Pengamat Ekonomi dan Tata Kelola Aset Publik)