Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rawat Semangat Kemerdekaan dengan Menghormati Merah Putih, Bukan Bendera Bajak Laut

I Putu Suyatra • Selasa, 26 Agustus 2025 | 13:38 WIB

Pengibaran bendera one piece tak dilarang oleh presiden
Pengibaran bendera one piece tak dilarang oleh presiden

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80 berlangsung dengan penuh khidmat. Seluruh elemen bangsa kembali meneguhkan rasa syukur dan penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Namun, setelah momen sakral tersebut, muncul fenomena pengibaran bendera bajak laut yang menjadi sorotan publik. Aksi ini memicu perdebatan karena dianggap mengaburkan makna nasionalisme dan mereduksi kesakralan Merah Putih sebagai simbol persatuan bangsa.

Anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat, Herman Khaeron, menilai tindakan ini tidak etis dan tidak mencerminkan semangat kemerdekaan. Ia menekankan bahwa momentum 17 Agustus seharusnya digunakan untuk menumbuhkan patriotisme, bukan menampilkan simbol yang jauh dari nilai persatuan.

Herman menambahkan bahwa pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan berbagai program strategis seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih. Program-program ini bertujuan memperkuat sumber daya manusia, membangun kebersamaan, dan mengokohkan persatuan nasional. Semangat inilah yang seharusnya terus digelorakan pasca perayaan kemerdekaan, bukan simbol fiksi yang berpotensi menimbulkan interpretasi keliru.

Fenomena bendera bajak laut berakar dari tren budaya populer. Bagi sebagian orang, bendera ini dianggap simbol perlawanan sebagaimana kisah dalam manga Jepang. Namun, ekspresi budaya populer tidak bisa disamakan dengan simbol negara. Mengibarkan Jolly Roger di ruang publik setelah perayaan kemerdekaan bisa menggeser makna historis yang diperjuangkan dengan pengorbanan para pahlawan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa Merah Putih memiliki kedudukan tak tergantikan. Seluruh warga negara wajib menghormati bendera negara dalam peringatan kemerdekaan. Mengibarkan simbol lain, apalagi yang tidak terkait dengan perjuangan bangsa, dapat mengurangi nilai spiritual dan nasional dalam perayaan. Pemerintah pun terus mengedukasi masyarakat mengenai batas antara simbol resmi negara dan ikon non-nasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, juga menyoroti pentingnya edukasi generasi muda tentang makna simbol nasional. Budaya populer boleh menjadi bagian dari kehidupan modern, namun penggunaannya harus proporsional. Hari Kemerdekaan adalah waktu tepat menanamkan rasa cinta tanah air, sehingga Merah Putih menjadi satu-satunya bendera yang layak dikibarkan.

Pasca momen kemerdekaan, ruang publik seharusnya menjadi ajang refleksi perjalanan bangsa. Mengibarkan Merah Putih adalah cara sederhana namun bermakna menunjukkan cinta tanah air. Simbol ini mencerminkan kedaulatan dan menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam satu payung kebangsaan. Menggantinya dengan ikon hiburan akan menimbulkan disonansi dengan semangat nasionalisme.

Pemerintah menekankan pendekatan persuasif melalui edukasi publik agar masyarakat memahami bahwa Merah Putih adalah simbol harga diri bangsa yang tak tergantikan. Dengan cara ini, masyarakat bisa mengekspresikan kreativitas tanpa melanggar nilai kebangsaan.

Momentum pasca 17 Agustus seharusnya menjadi periode memperkuat persatuan dan menatap masa depan dengan optimisme. Merawat semangat kemerdekaan berarti menjaga kesucian Merah Putih agar tetap menjadi lambang pemersatu bangsa, sekaligus menolak ikon yang bisa menggeser makna kebangsaan.

Dengan menjaga kehormatan bendera negara, bangsa Indonesia terus meneguhkan jati diri. Merah Putih tetap berkibar sebagai simbol pengorbanan dan cita-cita luhur, sementara bendera bajak laut hanya pantas berada dalam ruang hiburan. Kesadaran ini penting agar semangat kemerdekaan terus hidup dari generasi ke generasi.

Di era digital dan globalisasi, menjaga keotentikan simbol kebangsaan semakin penting. Generasi muda perlu membedakan antara hiburan dan simbol yang mewakili identitas nasional. Pemerintah, tokoh pendidikan, budaya, dan masyarakat memiliki peran strategis menanamkan nilai kebangsaan melalui kurikulum, kegiatan sosial, dan ruang publik yang mendukung rasa patriotik. ***

Oleh: Nabila Tri Kusuma (Antropolog)

Editor : I Putu Suyatra
#one piece