Pendidikan Indonesia kerap dituding terlalu mengandalkan teori-teori Barat. Sejak lama, strategi belajar yang diadopsi lebih sering menekankan pada rasionalitas, individualisme, dan capaian kognitif yang terukur.
Tentu tidak ada yang salah dengan mengambil inspirasi dari luar, tetapi jika seluruh orientasi pendidikan hanya bertumpu pada konsep asing, kita akan kehilangan jati diri.
Di sinilah pendidikan bahasa dan sastra agama, khususnya melalui sastra tradisional Bali, menawarkan alternatif yang relevan dan berakar kuat pada budaya bangsa.
Sastra tradisional Bali, baik berupa geguritan, kakawin, maupun satua, menyimpan kekayaan pedagogis yang tidak ternilai. Ia tidak hanya menyampaikan keindahan bahasa, tetapi juga mengandung filsafat hidup, etika, dan spiritualitas.
Melalui teks-teks tersebut, anak-anak belajar tentang ketekunan, hormat pada guru, keselarasan dengan alam, dan nilai-nilai religius yang membentuk karakter luhur. Pendidikan berbasis sastra agama ini memberi ruang bagi pembelajaran yang utuh: kognitif, afektif, dan spiritual.
Ironisnya, di ruang-ruang kelas kita hari ini, karya-karya semacam itu sering dianggap sekadar bahan tambahan. Padahal, jika digali lebih dalam, ia justru mengajarkan metode belajar yang kontekstual dengan budaya Indonesia.
Dalam banyak geguritan, misalnya, terdapat narasi yang membimbing anak-anak untuk belajar melalui cerita, dialog, perenungan, dan simbol-simbol. Pendekatan ini sejalan dengan gaya belajar anak Indonesia yang lebih suka belajar dengan cara kolektif, naratif, dan penuh makna.
Kritik terhadap dominasi teori Barat bukan berarti menolak modernitas. Yang kita perlukan adalah keseimbangan: bagaimana pengetahuan global dipadukan dengan akar lokal. Sastra Bali bisa menjadi jembatan itu.
Di tengah gempuran digitalisasi, sastra tradisional dapat diadaptasi menjadi media pembelajaran inovatif—mulai dari digital storytelling, animasi berbasis satua, hingga integrasi nilai sastra ke dalam model hybrid learning. Dengan cara ini, kita tidak sekadar melestarikan tradisi, tetapi juga menyalakan kembali api kearifan lokal dalam konteks pendidikan modern.
Urgensi pendidikan bahasa dan sastra agama kini semakin nyata. Generasi muda menghadapi krisis identitas akibat arus globalisasi yang deras.
Mereka mengenal tokoh-tokoh asing lebih banyak daripada leluhur sendiri, menyerap nilai-nilai konsumtif lebih cepat daripada nilai kebajikan tradisional. Sastra Bali dapat hadir sebagai penawar, sebagai media yang menumbuhkan kembali akar spiritual dan budaya di tengah generasi digital.
Pemerintah, pendidik, dan masyarakat perlu berani memberi ruang lebih besar bagi sastra tradisional dalam kurikulum. Bukan sekadar lampiran pelajaran, tetapi sebagai inti dari pendidikan karakter dan religiusitas bangsa.
Seperti ditegaskan oleh Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat pada anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Prinsip ini sejalan dengan apa yang telah diwariskan sastra Bali berabad-abad lalu.
Akhirnya, kembali pada sastra Bali bukan berarti mundur ke masa lalu, melainkan melangkah maju dengan jati diri. Menggali kearifan lokal berarti menyemai pendidikan bahasa dan sastra agama yang berakar, relevan, dan bermartabat. Hanya dengan cara itu, bangsa ini dapat berdiri tegak di tengah arus global tanpa kehilangan arah dan identitasnya. (dik)
Oleh:
Made Susila Putra, M.Pd
Penulis adalah Dosen Sastra Agama dan Pendidikan Bahasa Bali, Institut Mpu Kuturan
Editor : I Putu Mardika