Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Krisis Sunyi di Kalangan Anak Muda Bali  

I Putu Mardika • Rabu, 7 Januari 2026 | 15:53 WIB

 

Dosen IAHN Mpu Kuturan, Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara, M.Si
Dosen IAHN Mpu Kuturan, Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara, M.Si
BALIEXPRESS.ID-Semakin meningkatnya kasus bunuh diri yang terjadi di bali semenjak tahun 2024 hingga yang terkahir pada awal tahun 2026 yang di dominasi oleh generasi muda khusunya laki-laki, adalah sebuah bentuk tamparan yang menyadarkan bagi kita masyarakat bali tentang krisis yang terjadi di tengah harmoni dan gemerlapnya pulau Bali.

Tamparan keras ini menyadarkan kita sebagai masyarakat di bali akan terjadinya sebuah gejala sosial yang menandakan terjadinya kerentanan yang terjadi pada generasi muda di bali. Kerentanan yang nyata terjadi namun seringkali tidak tampak di mata kita sebagai masyarakat.

Kerentanan yang tumbuh dan lahir sebagai sebuah output dari tekanan mental, ekonomi, tuntutan sosial, yang merupakan sebuah bentuk bukti nyata akan melemahnya ruang sosial yang aman bagi generasi muda kita untuk bercerita, berbagi dan didengar.

Fenomena ini menuntut sebuah bentuk perhatian yang ekstra, yang tidak hanya selesai dengan mengucapankan rasa belasungkawa kita, namun lebih sebagai sebuah bentuk refleksi kolektif atas rentannya posisi genari muda kita saat ini dan bagaimana kita mengambil posisi dalam mengatasi fenomena ini.

Fenomena kerentanan secara mental yang dihadapi oleh generasi muda di bali bukanlah sebuah fenomena yang lahir dari dalam ruang hampa, namun tumbuh dari dinamika budaya kita, dimana kuatnya konstruksi maskulinitas yang mengakar dalam budaya kita seringkali melahirkan konstruksi maskulinitas toksis, mengapa saya menggunakan istilah maskulinitas, karena melihat data yang ada, dimana mayoritas pelaku bundir adalah laki-laki.

Berangkat dari kerangka teoretis R. W. Connell, yang memperkenalkan konsep hegemonic masculinity, yakni bentuk maskulinitas dominan yang dilegitimasi secara sosial dan dijadikan standar ideal tentang bagaimana “laki-laki sejati” seharusnya bersikap kuat, rasional, mandiri, berdaya tahan tinggi, serta mampu mengontrol emosi.

Hal tersebut membentuk sebuah struktur nilai sosial yang menuntut kaum laki-laiki sebagai sosok yang harus tetap tegar, kuat, dan "tahan banting" walaupun seberapa besar badai yang datang. Ekspresi emosi kerap dipersepsikan sebagai tanda kelemahan, sementara mencari bantuan dianggap sebagai kegagalan personal yang tidak dapat diterima sebagai seorang laki-laki. Akibatnya, banyak anak muda memilih memendam tekanan mental, ekonomi, dan sosial yang mereka alami, tanpa ruang dialog yang aman dan tanpa stigma.

Melihat fenomena tersebut maka pemerintah provinsi bali harus mengambil langkah-langkah yang lebih terstruktur dan terukur. Himbauan moral dan respon yang bersifat insidential saat ini sudah tidak efektif lagi.

Penanganan krisis kehilangan nyawa karena pengambilan keputusan yang ekstrem di kalangan anak muda harus ditempatkan sebagai sebuah isu kesehatan publik dan persoalan sosial, dan bukan hanya menjadi permasalahan individu secara personal saja.

Perlunya sebuah kebijakan terpadu yang mengintegrasikan layanan kesehatan jiwa yang berbasiskan komunitas, baik dari pemerintah provinsi hingga tingkat desa maupun banjar-banjar yang dapat memperluas akses konseling yang ramah, mudah dijangkau, dan bebas stigma.

Berikutnya adalah merubah paradigma maskulinitas toksis (toxic masculinity) yang sudah mengakar di masyarakat kita, pentingnya peranan masyarakat dalam hal ini orang tua untuk memberikan pemahaman, bahwa tidak ada yang salah bagi kaum laki-laki dalam hal ini generasi muda untuk membuka diri, bercerita, bahkan berkeluh kesah terhadap peremasalahan yang mereka hadapi, hentikan menutup mata dan menjustifikasi nilai "kaum laki-laki harus tegar" dan tidak berkeluh kesah, baik secara eksplisit maupun implisit.

Hentikan membangun stigma dengan ungkapan “masa laki-laki cengeng?”, “laki-laki kok baper”, “jangan lebay”, atau “itu masalah kecil, orang lain lebih berat”, ungkapan yang nampak sepele, namun memiliki dampak psikologis yang mendalam.

Ejekan dan stigma inilah yang kemudian membentuk lingkaran sunyi, dimana semakin besar tekanan yang dialami, semakin kecil kemungkinan untuk bercerita; semakin lama dipendam, semakin berat beban psikologis yang harus ditanggung sendirian. Dalam situasi ekstrem, keheningan yang dipaksakan oleh norma maskulinitas tersebut dapat mendorong individu pada perasaan terisolasi, putus asa, dan kehilangan makna.

Sebagai penutup, meningkatnya peristiwa kehilangan nyawa di kalangan generasi muda Bali hendaknya dibaca sebagai seruan moral dan sosial yang menuntut keberanian kolektif untuk melakukan perubahan.

Mari kita bersama menjadi lebih peka terhadap apa yang teman atau keluarga kita alami, hentikan stigma, dan rubah pardigma maskulinitas toksis yang ada, tidak ada yang salah ketika kalian bercerita, berkeluh kesah, dan mencari bantuan dalam menghadapi kondisi psikologis yang kalian hadapi, hal ini perlu dilakukan sehingga tidak ada lagi yang terpuruk dalam sunyi dan memilih mengambil langkah-langkah yang ekstrem lagi. (*)

Oleh:

I Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara, M.Si

Penulis adalah Dosen Ilmu Subkultur dan Budaya Populer IAHN Mpu Kuturan

 

Editor : I Putu Mardika
#generasi muda #mental #IAHN Mpu Kuturan #budaya #bunuh diri