BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Pagerwesi kembali hadir sebagai pengingat mendalam bagi umat Hindu, khususnya di Bali, tentang pentingnya memperkokoh “pager” atau benteng diri – bukan hanya secara spiritual, tetapi juga intelektual dan moral.
Dalam tradisi, Pagerwesi dimaknai sebagai hari untuk meneguhkan keteguhan hati dan kejernihan pikiran dalam menghadapi berbagai godaan kehidupan. Namun, di tengah derasnya arus perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), makna Pagerwesi menemukan relevansi baru yang jauh melampaui konteks ritual semata.
Dalam berbagai lontar seperti Sarasamuscaya dan Siwa Tattwa, manusia diajarkan bahwa keutamaan hidup terletak pada kemampuan membedakan yang benar dan yang salah (viveka), serta mengendalikan diri dari pengaruh yang menyesatkan. Pengetahuan bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Nilai ini menjadi sangat penting di era AI, ketika akses terhadap pengetahuan menjadi instan, tetapi kebenaran sering kali kabur di balik kemudahan tersebut.
Baca Juga: Pelanggar Buang Sampah Sembarangan Diberi Sanksi Tegas, Satpol PP Badung Segera Kirim ke Pengadilan
AI hari ini mampu menulis, merangkum, bahkan “berpikir” seolah-olah manusia. Di satu sisi, ini membuka peluang luar biasa dalam pendidikan, riset, dan produktivitas. Namun di sisi lain, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: penyalahgunaan AI untuk plagiarisme, manipulasi informasi, hingga ketergantungan berlebihan yang melemahkan daya pikir kritis. Banyak pelajar dan bahkan akademisi terjebak dalam ilusi kompetensi – merasa mampu, padahal hanya mengandalkan mesin.
Di sinilah Pagerwesi berbicara dengan sangat kuat. Benteng diri yang dimaksud bukan sekadar perlindungan dari kekuatan eksternal, tetapi juga pengendalian terhadap kelemahan internal: kemalasan berpikir, keinginan instan, dan godaan untuk mengambil jalan pintas. AI, dalam konteks ini, bukanlah musuh. Ia adalah alat. Namun tanpa “pager” yang kokoh, alat ini dapat dengan mudah menggerus integritas.
Mengasah pemikiran kritis menjadi bentuk nyata dari implementasi nilai Pagerwesi di era digital. Dalam Sarasamuscaya, disebutkan bahwa manusia yang bijaksana adalah mereka yang mampu mempertimbangkan setiap tindakan dengan akal dan nurani.
Beberapa studi, seperti Education Sciences (2023), Teaching English with Technology (2024), dan Journal of Education and Learning (2025) menekankan bahwa pengguna AI harus mampu bertanya ketika hasil dari mesin ini diberikan: Apakah informasi ini benar? Apakah ini hasil refleksi saya atau sekadar salinan? Apakah penggunaan ini etis? Apakah yang ‘hilang/bisa dikritisi’ dari hasil (output) mesin ini?
Baca Juga: Atasi Masalah Air Kuta Selatan, PDAM Badung Pastikan Jaringan Pipa Segera Rampung
Lebih jauh lagi, etika dalam pemanfaatan AI menjadi krusial. AI tidak memiliki moralitas; manusialah yang memberinya arah. Tanpa landasan etika, AI bisa menjadi alat reproduksi hoaks, ujaran kebencian, bahkan eksploitasi intelektual. Oleh karena itu, semangat Pagerwesi ini sesuai dengan tulisan di jurnal Contemporary Educational Technology (2025) yang mengajak kita untuk meninjau kembali pemanfaatannya agar tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijaksana secara moral.
Pagerwesi juga mengingatkan bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan antara pengetahuan (widya) dan kebajikan (dharma). Dalam konteks AI, ini berarti kita tidak boleh hanya mengejar efisiensi dan kecepatan, tetapi juga kejujuran, tanggung jawab, dan kemanusiaan. AI seharusnya memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya secara membabi buta.
Pada akhirnya, Pagerwesi di era AI adalah panggilan untuk membangun benteng baru – benteng kesadaran digital. Sebuah kesadaran yang mampu menyaring informasi, menolak kemudahan yang menyesatkan, dan menggunakan teknologi sebagai sarana untuk berkembang, bukan sebagai jalan pintas menuju kemunduran intelektual.
Jika dahulu benteng itu dibangun melalui tapa, brata, dan yoga, maka hari ini benteng itu juga dibangun melalui literasi digital, pemikiran kritis, dan integritas dalam menggunakan teknologi. Di sinilah spiritualitas dan modernitas bertemu – mengajarkan bahwa kemajuan sejati bukan hanya tentang apa yang bisa kita lakukan dengan teknologi, tetapi tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia yang utuh di tengahnya. Jadi, jangan hanya copy paste dari Gusti Putu Tergantung ‘Prompt’ (GPT), tapi gunakan literasi AI sebaik-baiknya agar terhindar dari ilusi kompetensi. (*)
Made Hery Santosa, Ph.D.
Pendidik dan Peneliti Undiksha
Editor : I Putu Mardika