Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Copenhagen: Ketika AI, Integritas Akademik, dan Etika Riset Bertemu Publikasi Instan dan Travel Grant Gratis

I Putu Mardika • Selasa, 2 Juni 2026 | 11:10 WIB
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Pengguna media sosial Indonesia mungkin sedang lelah dengan drama, misalnya fenomena kebijakan beserta riuhnya dunia maya dengan beragam isinya. Namun beberapa hari terakhir, drama itu justru datang dari tempat yang seharusnya menjadi rumah integritas, yaitu dunia akademik.

Di sebuah konferensi kesehatan internasional bergengsi, International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD), 17-21 Mei 2026 di Copenhagen, Denmark, muncul dugaan yang membuat banyak akademisi mengelus dada.

Sejumlah peserta asal Indonesia (inisial P, RF, RW) diduga melakukan manipulasi identitas dan mempresentasikan riset yang keabsahannya dipertanyakan. Kasus ini kemudian menjadi viral setelah diungkap oleh akademisi Indonesia Mbak Wa Ode Dwi Daningrat (Peneliti Clinical Medicine Oxford) yang hadir langsung di konferensi tersebut dan Ida Bagus Mandara Brasika (yang sering penulis panggil Gus Nara), akademisi dan mahasiswa Ph.D. dari Exeter University, Inggris.

Yang membuat publik terkejut bukan sekadar dugaan riset palsu. Dengan melihat langsung nama orang Indonesia, jumlah abtsrak lebih dari 1 dan presentasi abstrak berbeda di sesi spotlight, dan ketidakmampuan menjawab pertanyaan. Ada dugaan seseorang berganti nama, mengganti nametag, bahkan mengganti gaya hijab agar terlihat sebagai orang yang berbeda untuk mempresentasikan berbagai penelitian dalam waktu berdekatan. 

Jika benar, ini bukan lagi persoalan akademik biasa. Ini adalah alarm. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya satu artikel atau satu konferensi. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan.

Ketika Publikasi Menjadi Perlombaan

Kita perlu jujur mengakui bahwa dunia akademik modern memang penuh tekanan. Dosen dituntut publikasi. Peneliti dituntut sitasi. Mahasiswa dituntut lulus cepat. Institusi dituntut naik peringkat.

Dalam situasi seperti ini, sebagian orang mulai melihat riset bukan sebagai proses pencarian kebenaran, melainkan sebagai alat mengejar angka. Yang penting publikasi. Yang penting sertifikat. Yang penting pernah tampil di konferensi luar negeri. Lama-kelamaan, sebagian orang tidak lagi bertanya, “Apakah penelitian ini benar?” melainkan, “Bagaimana caranya agar penelitian ini diterima?”

Perbedaan dua pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Sains dibangun di atas keraguan yang objektif (objective scepticism). Peneliti sejati menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hanya untuk memastikan datanya valid. Mereka berdebat dengan temuan sendiri. Mereka siap jika hipotesisnya ternyata salah. Sebaliknya, budaya instan hanya mencari hasil yang terlihat mengesankan. 

Dalam kasus ISPPD ini, sejumlah poster penelitian disebut mengklaim penelitian dilakukan di Peru, Ethiopia, Bangladesh, Nepal, Kenya, hingga India tanpa adanya kolaborator lokal yang jelas maupun penjelasan persetujuan etik yang memadai.

Padahal untuk penelitian kesehatan lintas negara, proses etik dan kolaborasi lokal biasanya merupakan aspek yang sangat penting. Pertanyaannya sederhana, bagaimana mungkin satu kelompok kecil mampu melakukan begitu banyak penelitian di berbagai negara dalam waktu yang relatif singkat? Ketika pertanyaan itu sulit dijawab secara ilmiah, kepercayaan mulai runtuh.

AI Bukan Tersangka Utamanya

Kasus ini juga kembali menyeret nama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Banyak orang langsung menyalahkan AI karena sejumlah grafik, visualisasi, dan narasi penelitian diduga dibuat menggunakan teknologi generatif. Namun sesungguhnya, AI bukanlah akar masalahnya. AI hanyalah alat. 

Masalah sebenarnya adalah manusia yang menggunakan alat tersebut tanpa etika. Sama seperti kalkulator tidak menciptakan proses berpikir matematis yang berlawanan dengan etika, AI juga tidak menciptakan ketidakjujuran akademik. Yang menciptakannya adalah keinginan untuk mendapatkan pengakuan tanpa proses, prestise tanpa kerja keras, dan reputasi tanpa kompetensi. Ironisnya, di era AI saat ini, kebohongan akademik justru semakin mudah terdeteksi. 

Komunitas ilmiah global semakin terhubung. Data dapat diperiksa silang. Afiliasi dapat diverifikasi. Gambar dapat dianalisis. Bahkan pola penulisan AI kini mulai dikenali oleh banyak peneliti berpengalaman. Karena itu, menggunakan AI untuk memalsukan penelitian sesungguhnya seperti mencoba menyembunyikan api dengan kertas. Cepat atau lambat akan terbakar juga.

Harga Sebuah Reputasi

Indonesia sebenarnya sedang mengalami perkembangan yang cukup baik dalam dunia penelitian. Semakin banyak dosen Indonesia menjadi pembicara internasional. Semakin banyak mahasiswa memperoleh beasiswa luar negeri. Semakin banyak artikel ilmiah Indonesia muncul di jurnal bereputasi. Namun reputasi dibangun bertahun-tahun dan bisa rusak hanya dalam hitungan hari. Seperti peribahasa, ‘karena nila setitik, rusak susu sebelanga.’ Inilah yang paling dikhawatirkan banyak akademisi.

Ketika satu kasus mencuat secara global, dunia tidak selalu melihat individu. Dunia sering melihat bendera yang dibawa individu tersebut. Seorang peneliti yang tidak jujur mungkin hanya satu orang. Namun akibatnya bisa dirasakan ribuan peneliti Indonesia yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka yang menghabiskan malam di laboratorium. Mereka yang mengumpulkan data di daerah terpencil. Mereka yang berjuang mendapatkan publikasi dengan proses panjang dan melelahkan. Ketika integritas dirusak oleh segelintir orang, kelompok yang paling dirugikan justru mereka yang jujur.

Travel Grant dan Mentalitas Jalan Pintas

Di media sosial, muncul pula spekulasi bahwa salah satu motif di balik praktik semacam ini adalah mengejar travel grant atau bantuan pendanaan konferensi. Perlu ditegaskan bahwa tidak ada yang salah dengan travel grant. Justru program tersebut sangat penting untuk membantu peneliti muda yang memiliki keterbatasan dana. Banyak mahasiswa doktoral, peneliti muda (novice researchers) atau akademisi yang sedang berkembang (emerging scholars) Indonesia berhasil tampil di panggung internasional berkat skema pendanaan yang sah dan kompetitif. 

Masalah muncul ketika travel grant tidak lagi dipandang sebagai sarana berbagi ilmu, melainkan sebagai tiket wisata akademik. Akibatnya, sebagian orang mulai mencari jalan pintas. Bukan memperbaiki kualitas penelitian, tetapi memanipulasi tampilan penelitian. 

Padahal konferensi internasional bukan ajang mengoleksi foto di depan menara terkenal atau menambah stempel perjalanan di paspor. Konferensi adalah ruang dialog ilmiah. Di sana, yang diuji bukan seberapa banyak abstrak yang diterima. Yang diuji adalah kualitas pemikiran. Dari beragam sumber dan pengalaman pendek personal penulis, terdapat beberapa petunjuk umum untuk mendapatkan travel grant ke luar negeri dengan cara-cara baik dan benar.

1.     Targetkan konferensi bereputasi sesuai bidang keilmuan. Pastikan konferensi diselenggarakan oleh asosiasi ilmiah resmi, bukan predator atau abal-abal.

2.     Kirim abstrak berkualitas. Pastikan riset original, data organik, memiliki metodologi yang kuat, dan kontribusi atau dampak nyata.

3.     Cari pendanaan resmi. Ajukan bantuan biaya perjalanan dari sumber-sumber terpercaya, seperti dari skema internal lembaga, beasiswa pemerintah atau lembaga internasional terpercaya, atau skema travel grant resmi dari penyelenggara. Kadang, tergantung kualitas peneliti, bantuan bahkan bisa langsung diberikan sesuai kebutuhannya.

4.     Bersikap transparan, jujur, dan beretika. Selalu lampirkan semua data dan bukti pendukung yang resmi dan valid seperti Letter of Acceptance (LoA) dan rincian biaya secara transparan, terperinci, dan akuntabel.

5.     Fokus pada agenda kegiatan dan lakukan proses berjejaring secara organik dan bersifat saling berkontribusi. Foto-foto adalah bonus. 

Indonesia Tidak Kekurangan Peneliti Hebat

Kasus ISPPD seharusnya tidak membuat kita tidak percaya terhadap seluruh dunia akademik Indonesia. Sebaliknya, kasus ini harus menjadi pengingat bahwa mayoritas akademisi Indonesia justru bekerja dengan integritas tinggi. Banyak peneliti Indonesia yang melakukan riset bertahun-tahun dengan dana terbatas. Banyak dosen yang tetap meneliti meskipun harus membagi waktu dengan mengajar, mengabdi kepada masyarakat, dan tugas administrasi. Banyak mahasiswa yang tetap menjunjung kejujuran meskipun godaan AI dan budaya instan semakin besar. Mereka inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya. 

Karena itu, respons terbaik terhadap kasus ini bukan menutupi masalah atau membela secara membabi buta. Respons terbaik adalah melakukan evaluasi, memperkuat etika penelitian, meningkatkan literasi AI, serta memperbaiki sistem pengawasan akademik dari semua pihak, termasuk pemerintah dan penyelenggara. Dalam dunia sains, kesalahan bisa diperbaiki, reputasi bisa dipulihkan, hanya jika kita berani mengakui masalah dan belajar darinya.

Konferensi sebesar ISPPD mengingatkan kita pada satu hal sederhana bahwa ilmu pengetahuan bukan dibangun oleh kecerdasan semata, melainkan oleh kejujuran. Karena di dunia akademik, data bisa salah. Metode bisa direvisi. Teori bisa berubah. Tetapi ketika integritas hilang, seluruh bangunan ilmu pengetahuan ikut runtuh. 

Dunia akademik dibangun di atas fondasi etika dan integritas. Pemalsuan data demi popularitas, publikasi instan untuk mencapai standar minimal, sebuah status, atau bantuan dana bukan hanya tindakan kriminal secara moral, tapi juga merusak kualitas keilmuan secara keseluruhan. Mari kita jaga nama baik akademisi Indonesia dengan cara-cara yang jujur dan bermartabat.

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti

Universitas Pendidikan Ganesha

 

Editor : I Putu Mardika
#Publikasi ilmiah #Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases #akademik