PISA 2025: Bagaimana Indonesia Bisa Belajar dari Konteks Global, Regional, dan Lokal?  

I Putu Mardika • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 19:06 WIB
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 kembali menghadapkan Indonesia pada sebuah cermin besar. Cermin itu tidak hanya memperlihatkan peringkat, tetapi juga menunjukkan seberapa baik sistem pendidikan membekali anak berusia 15 tahun untuk membaca secara kritis, menggunakan matematika dalam kehidupan nyata, memahami bukti ilmiah, dan memecahkan masalah yang kompleks

PISA 2025 diikuti lebih dari 760.000 siswa yang mewakili sekitar 33 juta anak berusia 15 tahun di 91 negara dan wilayah ekonomi. Sains menjadi domain utama, disertai matematika, membaca, dan asesmen baru tentang pemecahan masalah komputasional. Indonesia diwakili 14.168 siswa dari 419 sekolah, yang merepresentasikan sekitar empat juta anak berusia 15 tahun. OECD juga menyatakan bahwa data Indonesia memenuhi standar kualitas dan layak dilaporkan.

Secara global, hasil PISA 2025 membawa kabar yang kurang menggembirakan. Setelah penurunan besar pada PISA 2022, kemampuan siswa di banyak negara cenderung stagnan atau kembali menurun. Dibandingkan hasil signifikan tahun 2015, rata-rata negara OECD turun sekitar 22 poin dalam matematika dan 28 poin dalam membaca. Sains relatif lebih bertahan, tetapi tetap mengalami penurunan kecil dalam satu dekade terakhir.

Artinya, krisis pembelajaran bukan hanya persoalan Indonesia. Digitalisasi yang tidak selalu diikuti kedalaman belajar, berkurangnya kebiasaan membaca untuk kesenangan, kecanduan atau distraksi gawai, ketimpangan sosial-ekonomi, serta dampak panjang pandemi ikut memengaruhi banyak negara. Namun, kenyataan bahwa negara lain juga menurun tidak boleh menjadi alasan bagi Indonesia untuk merasa aman. Titik awal dan kedalaman persoalan kita berbeda.

Baca Juga: Cegah Stunting Berbasis Pangan Lokal, Prodi Sarjana Farmasi Unmas Denpasar Edukasi Pemanfaatan Daun

PISA sebaiknya tidak dibaca sebagai perlombaan medali karena perbedaan kecil antar skor belum tentu signifikan secara statistik. Namun, kelompok teratas tetap memperlihatkan pola yang sangat jelas, yaitu pusat keunggulan pendidikan dunia semakin kuat berada di Asia Timur. Dalam sains, lima sistem pendidikan teratas adalah B-S-J-Z Cina dengan 597 poin, Singapura 560, Makau 541, Cina Taipei 540, dan Jepang 538. B-S-J-Z bukan keseluruhan Cina, melainkan gabungan Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang. Karena itu, hasilnya tidak boleh serta-merta dianggap mewakili seluruh wilayah Cina. Namun, keempat kawasan tersebut tetap menunjukkan standar pendidikan yang sangat tinggi. 

Dalam matematika, B-S-J-Z juga memimpin dengan 612 poin, diikuti Singapura 563, Makau 549, Cina Taipei 546, dan Jepang 525. Dalam membaca, Singapura berada di posisi teratas dengan 535 poin, disusul B-S-J-Z 527, Cina Taipei 508, Jepang 503, serta Makau dan Korea Selatan yang sama-sama memperoleh 501 poin. 

Kelompok tersebut tidak sekadar membuat siswa menghafalkan lebih banyak materi. Sistem mereka membangun penguasaan konsep dasar yang kuat, konsistensi kurikulum, kualitas pengajaran, budaya belajar, serta kemampuan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi masalah baru. B-S-J-Z dan Singapura unggul sangat jauh, terutama dalam matematika. Sebanyak 54 persen siswa B-S-J-Z dan 37 persen siswa Singapura bahkan mencapai dua tingkat tertinggi dalam matematika. Di Indonesia, proporsinya hampir nol.

Perbandingan ini penting. Keunggulan Asia Timur membantah anggapan bahwa prestasi tinggi hanya mungkin dicapai negara Barat. Namun, Indonesia juga tidak dapat menyalin begitu saja sistem Cina, Jepang, atau Singapura. Kita perlu mempelajari konsistensi, kualitas guru, fokus pada penguasaan konsep, dan intervensi terhadap siswa tertinggal, bukan meniru tekanan akademiknya tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan keragaman Indonesia.

Di ASEAN, kesenjangan antar sistem pendidikan juga terlihat jelas. Singapura bukan hanya pemimpin kawasan, tetapi juga salah satu pemimpin dunia. Skornya mencapai 560 dalam sains, 535 dalam membaca, dan 563 dalam matematika. Setelah Singapura, Vietnam memperoleh 457 untuk sains, 392 untuk membaca, dan 443 untuk matematika. Brunei Darussalam mencatat 439, 426, dan 435. Thailand meraih 432, 392, dan 407, sedangkan Malaysia memperoleh 419, 393, dan 397. Indonesia mencatat 389 dalam sains, 365 dalam membaca, dan 364 dalam matematika. Di bawah atau dekat Indonesia terdapat Kamboja dengan skor 382, 347, dan 366 serta Filipina dengan 373, 367, dan 371.

Jika negara ASEAN yang berpartisipasi diurutkan berdasarkan sains, Indonesia berada di bawah Singapura, Vietnam, Brunei, Thailand, dan Malaysia, tetapi di atas Kamboja dan Filipina. Dalam membaca, Indonesia hanya berada di atas Kamboja. Dalam matematika, skor Indonesia paling rendah di antara delapan negara ASEAN yang dilaporkan, meskipun beberapa perbedaannya sangat kecil dan belum tentu signifikan secara statistik.

Kesenjangan Indonesia dengan Singapura mencapai 171 poin dalam sains, 170 poin dalam membaca, dan 199 poin dalam matematika. Ini bukan selisih kecil yang dapat ditutup melalui pergantian istilah kurikulum, seminar sesaat, atau penambahan aplikasi digital. Kesenjangan sebesar itu menggambarkan perbedaan akumulatif dalam mutu pengajaran, kesempatan belajar, penguasaan konsep dasar, dukungan keluarga, kualitas lingkungan sekolah, dan konsistensi kebijakan.

Baca Juga: Akses Jalan Petani Munggu Dibuka, Penyewa Bongkar Bangunan Secara Sukarela

Ada satu perkembangan yang menarik. Sejak 2018, kesenjangan Indonesia dengan Malaysia mengecil: dari 62 menjadi 34 poin dalam matematika, dari 44 menjadi 28 poin dalam membaca, dan dari 42 menjadi 32 poin dalam sains. Namun, penyempitan kesenjangan tidak boleh langsung dianggap sebagai lompatan besar Indonesia. Sebagiannya terjadi karena kinerja Malaysia juga menurun. Mengejar negara lain karena mereka mundur tentu berbeda dari mengejar karena kita berlari lebih cepat.

Dibandingkan PISA 2022, skor Indonesia pada 2025 naik enam poin dalam sains, dari 383 menjadi 389, dan naik enam poin dalam membaca, dari 359 menjadi 365. Matematika justru turun dua poin, dari 366 menjadi 364. OECD menyimpulkan bahwa hasil Indonesia pada ketiga domain secara statistik kurang lebih sama dengan 2022. Dengan demikian, kita belum dapat menyebut kenaikan tersebut sebagai pemulihan yang meyakinkan.

Jika dibandingkan dengan 2015, maknanya lebih terlihat jelas. Pada 2015, Indonesia memperoleh 403 dalam sains, 397 dalam membaca, dan 386 dalam matematika. Sepuluh tahun kemudian, skor tersebut turun masing-masing 14, 32, dan 22 poin.

Hasil Skor PISA Indonesia 2015 – 2025

Tahun

Sains

Membaca

Matematika

2015

403

397

386

2018

396

371

379

2022

383

359

366

2025

389

365

364

Dalam rentang yang lebih panjang, perubahan paling mencolok terdapat pada membaca. Skor Indonesia meningkat dari 371 pada 2001 menjadi 402 pada 2009. Setelah itu, skor relatif bertahan pada 396 pada 2012 dan 397 pada 2015, lalu turun menjadi 371 pada 2018 dan 359 pada 2022. Tahun 2025 hanya membawa kenaikan tipis menjadi 365. Dengan demikian, kemampuan membaca siswa Indonesia kembali kurang lebih ke tingkat awal partisipasi PISA lebih dari dua dekade lalu.

Dalam matematika, skor meningkat dari 360 pada 2003 menjadi 391 pada 2006, tetapi kemudian berfluktuasi dan terus melemah setelah 2015. Sains mencapai skor tertinggi 403 pada 2015, lalu turun menjadi 396 pada 2018 dan 383 pada 2022, sebelum meningkat menjadi 389 pada 2025.

Lebih serius daripada skor rata-rata adalah rendahnya jumlah siswa yang mencapai kompetensi minimum. Pada PISA 2025, hanya 37 persen siswa Indonesia mencapai sedikitnya Level 2 dalam sains, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 74 persen. Dalam membaca, proporsinya hanya 27 persen, sedangkan rata-rata OECD 69 persen. Dalam matematika, hanya 17 persen siswa Indonesia mencapai kompetensi minimum, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 65 persen.

Baca Juga: Herindra Resmi Pimpin PB ESI, Targetkan Prestasi dan Ekosistem Esports Indonesia

Dengan kata lain, sekitar 83 persen siswa Indonesia belum mencapai kompetensi minimum matematika, 73 persen belum mencapainya dalam membaca, dan 63 persen belum mencapainya dalam sains. Sementara itu, siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau 6 dalam ketiga bidang hampir tidak ada. Sebanyak 60,9 persen siswa Indonesia bahkan menjadi kelompok berkinerja rendah secara bersamaan dalam sains, membaca, dan matematika.

Inilah alarm utamanya. Persoalan kita bukan sekadar kekurangan anak berprestasi internasional, tetapi sangat besarnya jumlah anak yang belum menguasai keterampilan dasar untuk belajar lebih lanjut, bekerja, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, hasil ini tidak boleh ditafsirkan bahwa anak-anak Indonesia kurang cerdas. PISA menilai hasil interaksi panjang antara potensi anak dan kesempatan belajar yang diberikan kepadanya. Ketika sebagian besar siswa belum mencapai kompetensi minimum, pertanyaan yang lebih adil bukanlah “Apa yang salah dengan anak-anak kita?”, melainkan “Kesempatan belajar seperti apa yang gagal kita sediakan?”

Data PISA 2025 justru menunjukkan modal psikologis yang menjanjikan. Sebanyak 80 persen siswa Indonesia menyatakan ingin tahu terhadap banyak hal, lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 73 persen. Sebanyak 74 persen bersedia meningkatkan usaha ketika menghadapi tugas sulit, dibandingkan rata-rata OECD 60 persen. Hanya 9 persen menganggap sekolah membuang-buang waktu, jauh lebih rendah daripada rata-rata OECD sebesar 24 persen.

Dukungan guru juga dinilai positif. Sebanyak 82 persen siswa menyatakan guru sains menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran setiap siswa, 85 persen mengatakan guru terus mengajar sampai siswa memahami, dan 80 persen memperoleh bantuan tambahan ketika membutuhkannya. Anak-anak kita ternyata memiliki rasa ingin tahu, ketekunan, penghargaan terhadap sekolah, dan persepsi positif terhadap dukungan guru. Yang perlu diberi perhatian dan dukungan adalah mengubah modal tersebut menjadi kompetensi akademik yang kuat.

Namun, terdapat beberapa persoalan struktural. Hampir 47 persen siswa Indonesia berada pada kuartil terbawah kondisi sosial-ekonomi internasional. Sebanyak 37 persen bersekolah di tempat yang pembelajarannya terhambat kekurangan bahan pendidikan dan 39 persen mengalami keterbatasan infrastruktur fisik. Korban perundungan mencapai 24 persen, lebih tinggi daripada rata-rata OECD 20 persen. 

Hanya 30 persen siswa Indonesia memiliki growth mindset atau keyakinan bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha dan umpan balik. Rata-rata OECD mencapai 69 persen. Banyak siswa kita tekun, tetapi belum sepenuhnya percaya bahwa strategi belajar, latihan, kesalahan, dan umpan balik dapat meningkatkan kemampuannya.

Dukungan keluarga juga melemah. Pada 2022, sebanyak 57 persen siswa mengatakan orang tua menanyakan kegiatan mereka di sekolah setidaknya sekali seminggu. Pada 2025, proporsinya turun menjadi 48 persen. Pembicaraan rutin mengenai masalah yang dihadapi anak di sekolah juga turun dari 48 menjadi 36 persen.

Dalam hal penggunaan gawai dan teknologi, siswa Indonesia diketahui menggunakan perangkat digital untuk kegiatan belajar di sekolah rata-rata 2,5 jam per hari, lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 1,7 jam. Sebanyak 53 persen menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu, juga lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 46 persen. Namun, durasi penggunaan teknologi tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang lebih baik. Siswa Indonesia juga menggunakan perangkat digital untuk hiburan di sekolah sekitar 1,3 jam per hari. Sebanyak 23 persen melaporkan gangguan perangkat digital dalam sebagian besar atau seluruh pelajaran sains. Siswa yang mengalami distraksi digital memperoleh skor sains rata-rata 11 poin lebih rendah.

Karena itu, digitalisasi pendidikan tidak boleh berhenti pada pembagian perangkat, pemasangan internet, atau penggunaan AI untuk menyelesaikan tugas. Teknologi harus memperbesar aktivitas berpikir, bukan menggantikannya. Jika AI digunakan untuk langsung membuat jawaban, ringkasan, atau esai, anak mungkin menghasilkan tugas yang terlihat baik, tetapi kemampuan membaca, menalar, dan menulisnya tidak berkembang.

Hal-hal tersebut adalah situasi nyata di lapangan yang harus kita sikapi bersama dengan bijak dengan menerapkan langkah-langkah dan implementasi riil. Pertama, Indonesia perlu menetapkan pemulihan literasi dan numerasi sebagai gerakan akademik nasional. Setiap sekolah perlu melakukan diagnosis singkat pada awal semester, bukan untuk memberi peringkat, tetapi untuk mengidentifikasi keterampilan yang belum dikuasai setiap siswa. Anak yang tertinggal harus memperoleh pendampingan kelompok kecil tiga kali seminggu sampai mencapai kompetensi dasar.

Kedua, kurikulum perlu mengutamakan kedalaman daripada keluasan. Guru tidak seharusnya dipaksa menuntaskan terlalu banyak materi secara level permukaan semata. Dalam membaca, siswa perlu berlatih menemukan gagasan utama, membandingkan sumber, membedakan fakta dan opini, serta menilai kredibilitas informasi. Dalam matematika, latihan rutin harus bergerak dari pemahaman konsep menuju persoalan kontekstual. Dalam sains, sekolah perlu menyediakan eksperimen dan penyelidikan sederhana secara teratur, termasuk dengan bahan murah yang tersedia di lingkungan.

Ketiga, setiap mata pelajaran harus menjadi ruang literasi. Membaca bukan hanya tanggung jawab guru bahasa. Siswa perlu membaca grafik dalam matematika, bukti dalam sains, sumber sejarah dalam ilmu sosial, serta instruksi dan argumen dalam pendidikan vokasional. Sekolah dapat menyediakan 20 – 30 menit membaca mendalam setiap hari tanpa notifikasi, tanpa perpindahan aplikasi, dan tanpa tugas administratif tambahan.

Keempat, peningkatan kompetensi guru harus berpindah dari seminar menuju pendampingan di kelas. Guru memerlukan pelatihan praktis tentang menjelaskan konsep, memberikan pertanyaan tingkat tinggi, memeriksa pemahaman, mengelola kelas, dan memberikan umpan balik. Setelah pelatihan, harus ada observasi sejawat, perencanaan bersama, praktik, dan perbaikan berulang.

Kelima, pendanaan harus mengikuti kebutuhan. Sekolah di daerah tertinggal, kepulauan, perbatasan, dan kantong kemiskinan memerlukan alokasi lebih besar, bukan pembagian yang seragam. Prioritasnya mencakup buku bermutu, laboratorium sederhana, konektivitas yang dapat diandalkan, guru yang kompeten, serta program pendampingan bagi siswa berisiko tertinggal.

Baca Juga: Dampingi Usaha hingga Edukasi Keamanan Bertransaksi, Mantri BRI Hadir Dekat dengan Masyarakat di Lub

Keenam, sekolah perlu membuat aturan digital yang jelas. Waktu belajar mendalam harus bebas dari telepon seluler yang tidak diperlukan. AI dapat digunakan melalui pola “kerjakan-bandingkan-verifikasi-refleksikan” dimana siswa terlebih dahulu mencoba sendiri, membandingkan jawabannya dengan luaran jawaban AI, memverifikasi dan mencari informasi atau fakta-fakta terkait lainnya, lalu menjelaskan dan merefleksikan apa yang dilakukan, diperbaiki, atau dipelajari. Proses berpikir, draf, dan refleksi harus dinilai bersama produk akhir.

Ketujuh, keluarga perlu dikembalikan sebagai mitra pembelajaran. Tidak diperlukan orang tua yang menguasai semua mata pelajaran. Percakapan sepuluh menit tentang apa yang dipelajari anak, kesulitan yang dihadapi, buku yang dibaca, dan bantuan yang dibutuhkan sudah menjadi awal penting. Penurunan keterlibatan orang tua dalam PISA 2025 tidak boleh dianggap sebagai statistik kecil.

Kedelapan, keberhasilan kebijakan harus diukur dari kemajuan nyata siswa. Pemerintah perlu memantau persentase anak yang naik dari bawah Level 2, perkembangan membaca per semester, penyempitan kesenjangan antar daerah, penurunan perundungan, dan peningkatan kehadiran. Pergantian kurikulum, peluncuran platform, dan jumlah pelatihan bukan hasil akhir.

Indonesia tidak harus menjadi Singapura atau Cina. Kita memiliki wilayah, demografi, bahasa, budaya, dan tingkatan situasi kondisi serta pertimbangan antar lokasi yang berbeda. Namun, Indonesia dapat mempelajari satu pelajaran penting dari negara-negara berkinerja tinggi, yakni kualitas pendidikan dibangun melalui konsistensi panjang, standar yang jelas, guru yang kuat, penguasaan kemampuan dasar, dan intervensi cepat ketika siswa tertinggal.

PISA 2025 tidak mengatakan bahwa anak-anak Indonesia tidak mampu bersaing. Data justru memperlihatkan mereka ingin tahu, mau berusaha, menghargai sekolah, dan berani meminta bantuan. Ini temuan penting yang harus dioptimalkan sebaik-baiknya. Dukungan ekosistem yang mampu mengubah potensi menjadi kompetensi sangat diperlukan.

Baca Juga: Wuling Kumala Resmi Buka Dealer Sanur, Dekatkan Layanan Penjualan dan Servis di Denpasar

Karena itu, hasil PISA ini harus menjadi dasar perubahan di ruang kelas, dimana anak-anak bisa lebih banyak membaca secara mendalam, lebih banyak pemecahan masalah, lebih banyak penyelidikan ilmiah, lebih sedikit distraksi digital, dan adanya perhatian semua pihak terkait untuk lebih cepat membantu anak yang tertinggal.

Indonesia tidak kekurangan anak-anak yang potensial. Yang perlu direfleksikan dan dilakukan adalah adanya upaya-upaya mendukung dan konsistensi untuk mengidentifikasi isu-isu penting dan utama serta melakukan upaya-upaya solutif terhadap hal-hal tersebut. Jika PISA 2025 hanya kita baca sebagai angka, kita akan kembali terkejut tiga tahun mendatang. Namun, jika dibaca sebagai peta tentang siapa yang tertinggal, mengapa mereka tertinggal, dan apa yang harus dilakukan mulai Senin pagi di kelas, PISA dapat menjadi awal perbaikan. Bukan demi mengejar peringkat semata, melainkan demi memastikan setiap anak Indonesia memiliki kemampuan untuk berpikir, belajar, dan menentukan masa depannya sendiri.

Sumber data:

1.     OECD (2026), PISA 2025 Results, Volume I: Future-Ready Students (https://doi.org/10.1787/73451bc5-en)

2.     PISA 2025 Country Note: Indonesia (https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2025-results-volume-i-country-notes_2d4ff9ea-en/indonesia_9c880f8a-en.html)

 

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti

Universitas Pendidikan Ganesha

Editor : I Putu Mardika
Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 Hery Santosa oecd pendidikan