BALIEXPRESS.ID-Salah satu tujuan umat Hindu, dalam ajaran Catur Purusa Arta, adalah Kama yakni pemenuhan keinginan. Setiap orang tentu memiliki keinginan, dan ini adalah sesuatu yang wajar. Hidup tanpa keinginan, sama saja dengan hidup tanpa arah dan tanpa tujuan. Hidup harus terarah, hidup harus bertujuan, dan itu dapat dikuatkan dengan keinginan.
Namun terdapat pesan yang jelas dalam sastra suci Sarasamuccaya, bahwa dalam memenuhi atau memperoleh keinginan harus dilandasi dengan kebajikan (Dharma). Bhagavad Gita sendiri menegaskan bahwa nafsu keinginan harus dikendalikan dengan kecerdasan dan kebajikan.
Penekanan pada pelaksanaan Dharma serta pengendalian melalui kecerdasan dan kebajikan dalam memperoleh keinginan, harus diikuti dengan langkah yang bijak ketika keinginan atau tujuan telah diperoleh.
Sebagai sebuah ilustrasi, Agus (sebut saja begitu) adalah seorang karyawan swasta yang giat bekerja. Agus memimpikan untuk bisa membeli sebuah motor yang harganya cukup mahal. Bekerja bertahun-tahun dengan disiplin ketat dalam penggunaan uang, akhirnya Agus berhasil membeli motor yang diidam-idamkannya.
Baca Juga: Jaga Keamanan Daerah Pariwisata, Adi Arnawa Bakal Libatkan Pecalang
Agus sangat senang dan begitu menikmati mengendarai motor barunya itu. Namun Agus lupa diri. Ia lebih banyak menggunakan waktunya untuk bertualang bersama motornya, bahkan sampai sering absen dari pekerjaannya. Akibatnya ia dipecat. Setelah dipecat, nasib malang belum mau pergi dari diri Agus.
Ia mengalami kecelakaan. Agus mengalami luka meskipun tidak parah, namun motornya rusak berat. Di tempat lain, Andi, seorang pekerja keras, setiap malam berdoa agar diberkati kekayaan. Andi mengelola uangnya dengan disiplin hingga akhirnya ia memperoleh apa yang diharapkannya.
Usahanya berkembang pesat, pendapatannya meningkat, ia telah menjadi kaya raya. Namun Andi terlena dalam euphoria kekayaan yang mengalir. Ia mulai suka berjudi, dan suka mengeluarkan uang secara jor-joran hanya untuk mengangkat gengsi dirinya secara sosial. Nasib baik Andi ternyata tidak lama.
Usahanya mengalami kemunduran, hutang karena judi dan pembelian barang yang tidak seharusnya membengkak. Dalam hitungan beberapa bulan Andi pailit dan jatuh miskin.
Berkaca pada dua ilustrasi tersebut, ada satu realitas yang jelas: Tuhan memberikan apa yang kita inginkan; namun jika tidak dijaga dan dikelola dengan baik, Tuhan dapat mengambilnya kapan saja Beliau mau.
Kesenangan hidup sesungguhnya adalah berkah yang sangat mahal, dan itu bukan saja dalam bentuk material duniawi. Kesehatan, hubungan baik dengan orang lain, kemudahan dalam urusan-urusan, keluarga yang rukun, adalah sebagian kecil dari kesenangan dari begitu besarnya yang dianugrahkan oleh Tuhan. Balasan yang terbaik untuk menjaga anugrah tersebut adalah dengan menggunakannya secara bijak, dan tentunya juga digunakan untuk berbagi sebagai bentuk kepedulian dan empati sosial.
Kesenangan hidup adalah hak untuk diraih, namun hidup hanya bersenang-senang bukan bagian dari mensyukuri anugrah. Bijak dalam memperoleh kesenangan, dan tulus sebagai syukur untuk berbagi kesenangan. (*)
Oleh
Dr. I Putu Sanjaya, S.Ag, M.Pd.H
Dosen IAHN Mpu Kuturan
Editor : I Putu Mardika