Duet Baru Di Puncak Polri

I Putu Mardika • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 20:02 WIB
Prof. Dr. Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa
Prof. Dr. Sukawati Lanang Putra Perbawa

Oleh : Prof. Dr. Sukawati Lanang Putra Perbawa, SH., M.Hum.

Babak baru Korps Bhayangkara dimulai. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dan Komjen Pol. Wahyu Hadiningrat dipercaya memimpin Polri sebuah duet yang mempertemukan ketajaman reserse dengan kematangan strategi, lapangan dengan perencanaan, keberanian dengan ketenangan.

Suyudi, alumnus Akpol 1994, tumbuh dari dunia reserse. Dari Resmob Polda Metro Jaya, sejumlah jabatan kapolres, Bareskrim, Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten, hingga Kepala BNN, perjalanan itu membentuk karakter seorang polisi yang terbiasa berhadapan langsung dengan kompleksitas kejahatan dan keamanan.

Di sisi lain, Wahyu Hadiningrat dikenal memiliki pengalaman panjang dalam manajemen strategis Polri. Ia pernah dipercaya sebagai Asrena Kapolri dan kemudian menjadi Astamarena Kapolri, posisi yang menuntut ketajaman membaca arah organisasi, perencanaan, anggaran, serta pembangunan institusi.

Di sinilah makna Duet Akpol 94 dan 92 menemukan relevansinya: bukan sekadar dua nama, bukan pula sekadar pergantian jabatan. Ini adalah pertemuan dua pengalaman yang dapat menjadi modal untuk menjawab tantangan Polri yang semakin kompleks.

Baca Juga: BRI Hadirkan BRImo Junior, Dorong Literasi Keuangan Generasi Muda sejak Dini

Suyudi membawa naluri penindakan. Wahyu membawa perspektif perencanaan. Yang satu terbentuk oleh kerasnya medan tugas; yang lain ditempa oleh panjangnya proses membangun organisasi.

Namun, kepemimpinan Polri tidak semata-mata membutuhkan ketegasan. Ia membutuhkan integritas. Tidak cukup hanya kuat menghadapi kejahatan; juga harus kuat menahan godaan kekuasaan. Tidak cukup menjaga negara dengan kewenangan; harus menjaga kepercayaan rakyat dengan keteladanan.

Di tengah perubahan zaman, ancaman keamanan bergerak semakin cepat dari kejahatan konvensional, narkotika, siber, ekonomi, hingga berbagai bentuk kejahatan lintas batas. Karena itu, transformasi Polri membutuhkan keberanian untuk berubah, kecerdasan membaca zaman, serta kedekatan yang nyata dengan masyarakat.

Baca Juga: Kepala BNNK Gianyar Gembleng Penyuluh Lintas Agama Kemenag Gianyar

Pada akhirnya, pangkat hanyalah tanda. Jabatan hanyalah amanah. Dan kekuasaan, sebagaimana amanah lainnya, kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka harapan terbesar kepada duet ini bukanlah sekadar lahirnya “duet maut”, melainkan lahirnya duet yang berintegritas: tegas terhadap kejahatan, adil dalam penegakan hukum, rendah hati di hadapan rakyat, dan kokoh menjaga Merah Putih.

Sebab Polri bukan hanya penjaga hukum.

Ia adalah salah satu wajah negara di hadapan rakyat.

Dan sejarah akan mencatat bukan seberapa tinggi bintang di pundak mereka, melainkan seberapa besar cahaya pengabdian yang mereka tinggalkan untuk Indonesia.

Penulis Adalah : Rektor Universitas Mahasaraswati ( Unmas ) Denpasar.

Editor : I Putu Mardika
Prof. Dr. Sukawati Lanang Putra Perbawa Korps Bhayangkara Suyudi Kapolri