Saat breakfast yang dijadwalkan sekitar pukul 07.00-08.00 itu, wisatawan sarapan sambil menikmati suasana desa, termasuk melihat aktivitas penduduk pada pagi hari saat masih sepi kunjungan wisatawan. Saat breakfast, pengelola desa wisata juga mengatur wisatawan biar lebih rileks, misalnya duduk lesehan. Demikian pula dengan menu sarapan, hampir sama dengan seperti yang dinikmati penduduk setempat pada umumnya. “Menunya memang kami kemas untuk memperkenalkan makanan khas Penglipuran, yang sering dimakan warga saat pagi hari, seperti bubur, sela kukus ketan. Lebih tradisional,” ungkap General Manajer Desa Wisata Penglipuran I Wayan Sumiarsa, Minggu (11/9).
Ia pun menegaskan, breakfast di tengah jalan desa ini memang untuk memberikan sensasi berbeda bagi wisatawan yang menginap di sana, baru dimulai Minggu. Sebelumnya, wisatawan breakfast di homestay tempatnya menginap. Demikian pula menu yang disuguhkan juga masih bersifat umum. Salah satunya nasi goreng. “Kalau dulu breakfast di room, sekarang di tengah jalan, tapi kalau wisatawan mintanya di room, tetap masih bisa,” terangnya.
Hanya saja, lanjut pria yang belum setahun menjabat general manajer ini, breakfast di tengah jalan desa baru berlaku untuk wisatawan yang menginap di homestay Desa Adat Penglipuran. Sebanyak tiga homestay. Ke depan, jika package baru ini mendapat respon positif dari turis, maka tidak menutup kemungkinan homestay yang dikelola secara mandiri oleh warga Penglipuran melakukan hal yang sama. “Kalau pasar bagus, kami akan koordinasi dengan pemilik homestay,” tandas Sumiarsa. (wan)