Hal ini dipengaruhi ambang batas nyeri setiap orang yang berbeda-beda, dan bagaimana pengetahuan kita terhadap arti dibalik rasa nyeri tersebut, cara untuk menanganinya, dan kapan saat yang tepat untuk segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penjelasan dan penanganan yang tepat. Sehingga sangat penting untuk mengenali rasa nyeri yang sedang dialami dan penanganan apa saja yang diperlukan untuk mengurangi rasa nyeri tersebut sehingga tidak berlarut-larut.
Menurut The International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan adanya atau potensi rusaknya jaringan.
Baru-baru ini IASP menambahkan enam poin penting mengenai nyeri, yaitu pertama, nyeri merupakan pengalaman personal yang derajat nyerinya dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial. Kedua, nyeri dan nosisepsi (respons sistem saraf sensorik terhadap rangsangan tertentu yang membahayakan atau berpotensi berbahaya) merupakan fenomena yang berbeda.
Ketiga, melalui pengalaman hidupnya, setiap individu belajar memahami konsep nyeri tersebut. Keempat, sesorang yang mengatakan sedang mengalami rasa nyeri harus dihormati.
Kelima, meskipun dapat beradaptasi terhadap rasa nyeri, hal tersebut dapat mempengaruhi fungsi sosial dan psikologi seseorang. Keenam, deskripsi secara verbal merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan nyeri, ketidakmampuan untuk mengungkapkan rasa nyeri tersebut tidak menutup kemungkinan sesorang tidak mengalaminya.
Menurut waktu kejadiannya, nyeri diklasifikasikan menjadi dua, yaitu nyeri akut dan nyeri kronik. Dikatakan nyeri akut apabila berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Yang menjadi ciri khas nyeri akut adalah terjadi kerusakan jaringan dan proses inflamasi yang berlangsung singkat kemudian akan menghilang bersamaan dengan proses penyembuhan.
Sedangkan nyeri kronis apabila nyeri tersebut berlangsung lebih dari tiga bulan. Selain merugikan, rasa nyeri tersebut juga memiliki manfaat, yaitu sebagai mekanisme proteksi diri dari bahaya atau potensi bahaya, mekanisme pertahanan diri, dan akan membantu dalam menegakkan diagnosis.
Nyeri bisa bersifat subjektif tergantung ambang batas nyeri setiap orang, sehingga ada beberapa metode yang cukup mudah digunakan untuk mengukur intensitas nyeri tersebut.
Pertama Verbal Rating Scale (VRSs), yakni dengan metode ini pasien akan diminta memilih derajat nyeri dari urutan kata-kata berikut, tidak nyeri (none), nyeri ringan (mild), nyeri sedang (moderate, nyeri berat (severe), nyeri sangat berat (very severe).
Kedua, Numerical Rating Scale (NRSs), yakni metode yang menggunakan angka untuk menggambarkan derajat nyerinya, 0 menggambarkan tidak ada nyeri, sedangkan 10 menggambarkan nyeri yang sangat berat. Ketiga yakni Faces Scale, dimana metode ini pasien disuruh melihat skala gambar wajar dan memilih sesuai dengan persepsi mereka terhadap rasa nyeri yang sedang dialami.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menangani rasa nyeri tersebut, dimulai dari hal sederhana hingga terapi invasif yang memerlukan tindakan pembedahan.
Beberapa modalitas non-farmakologi juga memiliki peran penting dan cukup membantu dalam mengurangi kekambuhan rasa nyeri tersebut. Beberapa metode penanganan nyeri secara non-farmakologi yang bisa dilakukan seperti latihan fisik, fisioterapi, mengubah pola hidup, relaksasi, psikoterapi, dan pendekakatan spiritual.
Modalitas farmakologis juga menjadi pilihan untuk penanganan rasa nyeri, namun perlu diingat untuk mendapatkan terapi farmakologi akan lebih baik untuk berkonsultasi dulu dengan dokter karena beberapa obat-obatan memiliki efek samping yang bisa muncul kapan saja dan apabila anda memiliki alergi terhadap obat-obatan akan sangat tidak dianjurkan untuk minum obat tanpa resep dokter.
Oleh dr. Putu Agus Aryanda Putra, S. Ked