JAKARTA, BALI EXPRESS - Tragedi memilukan terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Cilincing, Jakarta Utara, pada Jumat (3/5) sore. Putu SAR, seorang junior tingkat 1, asal Klungkung, Bali meninggal dunia setelah diduga dianiaya oleh seniornya, TRS.
Peristiwa ini bermula ketika Putu dan teman-temannya diajak oleh TSR dan rekan-rekan seniornya ke toilet di lantai 2 gedung pendidikan.
Di sana, Putu menjadi korban penganiayaan brutal dengan pukulan bertubi-tubi di bagian ulu hati.
Saksi mata yang melihat kejadian tersebut segera melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib.
“Putu yang terkapar lemas langsung dilarikan ke RS Polri untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, nyawanya tak tertolong,” ungkap sumber kepolisian di Jakarta.
Kasus ini telah ditangani oleh pihak kepolisian dan pelaku penganiayaan. TRS sendiri telah diamankan.
Petugas juga telah melakukan otopsi terhadap korban dan mengumpulkan barang bukti di lokasi kejadian.
Sementara itu, Polres Metro Jakarta Utara langsung menggelar penyidikan terhadap kasus tersebut.
"Kami masih melakukan penelusuran dan sambil berjalan ada 10 saksi yang dimintai keterangan untuk menggambarkan rangkaian kejadian," kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan di Jakarta, Jumat.
Kematian Putu SAR, taruna STIP angkatan 2023, akibat penganiayaan seniornya menambah daftar kelam tragedi kekerasan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP).
Sebelumnya, beberapa taruna STIP juga telah menjadi korban dalam peristiwa serupa. Berikut Daftarnya:
2017
Amirullah Adityas, taruna angkatan 2016, ditemukan tewas pada 10 Januari 2017.
2014
Dimas Dikita Handoko, taruna angkatan 2012, meninggal dunia pada 25 April 2014 setelah dianiaya senior bersama enam rekan seangkatan.
2015
Daniel Roberto Tampubolon, taruna angkatan 2014, tewas pada 6 April 2015 akibat penganiayaan senior.
2008
Agung Bastian, taruna angkatan 2006, dianiaya senior dan meninggal dunia. Kasusnya baru terungkap setelah korban dimakamkan selama tiga hari.
Tragedi berulang ini menunjukkan bahwa masih ada celah dalam pencegahan dan penanganan kekerasan di STIP.
Upaya yang lebih serius dan berkelanjutan perlu dilakukan untuk memastikan keselamatan para taruna dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif. ***
Editor : I Putu Suyatra