BALIEXPRESS.ID-Taman Safari Indonesia (TSI) kembali diterpa isu tak sedap usai seorang mantan karyawan melaporkan adanya dugaan penyiksaan dan eksploitasi terhadap pemain sirkus di bawah naungan Oriental Circus Indonesia (OCI), yang merupakan bagian dari jaringan hiburan TSI.
Dalam laporan yang disampaikan kepada pihak berwajib, disebutkan adanya perlakuan kasar serta tekanan fisik berlebihan yang diterapkan dalam proses latihan pemain sirkus.
Baca Juga: 60 Anak Sirkus Tak Tahu Asal Usul Keluarga, Dugaan Pelanggaran HAM TSI Kembali Disorot
Dugaan ini memicu kekhawatiran publik, terutama karena selama ini OCI dikenal sebagai salah satu pertunjukan hiburan populer di Indonesia yang menampilkan aksi akrobatik dan sulap yang memukau.
Namun, di balik gemerlap panggung dan riuh tepuk tangan penonton, terselip kisah kelam yang kini mulai terungkap ke publik: adanya dugaan eksploitasi, perlakuan tidak manusiawi, dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap para pemain sirkus.
Menanggapi tudingan tersebut, pendiri Oriental Circus Indonesia sekaligus Komisaris Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau, dengan tegas membantah adanya praktik penyiksaan maupun perbudakan.
Baca Juga: Kisah Tragis Butet Eks Pemain Sirkus: Hamil di Usia 17 Tahun, Dirantai hingga Dipukul dengan Balok
Ia mengakui bahwa pelatihan dalam dunia sirkus memang membutuhkan kedisiplinan tinggi dan tindakan tegas, namun menolak bahwa hal tersebut termasuk kekerasan.
“Betul, pendisiplinan itu kan dalam pelatihan ya, pasti ada. Saya harus akui. Cuma kalau sampai dipukul pakai besi, itu nggak mungkin,” ujar Tony kepada media.
Tony juga menyebut bahwa tuduhan yang dilayangkan bersifat sensasional dan tidak masuk akal. Ia menduga klaim tersebut sengaja dibuat untuk menarik simpati publik.
“Kalau dibilang penyiksaan, ya itu membuat sensasi saja. Supaya orang yang dengar jadi kaget, serius gitu ya. Kalau benar-benar seperti itu, ya tidak masuk akal,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan bahwa metode pelatihan di OCI mirip dengan pelatihan pada cabang olahraga seperti senam atau akrobatik. Menurutnya, penggunaan alat seperti rotan dalam pelatihan tidak bisa langsung dikategorikan sebagai kekerasan.
Baca Juga: Eks Pemain Sirkus Taman Safari Indonesia Mengaku Disiksa: Dipasung, Disetrum, hingga Lumpuh
“Biasanya cuma diingatkan, misal kakinya harus lurus. Kalau nggak lurus nanti kayunya bengkok. Kadang pakai rotan, ya itu memang biasa di latihan akrobatik atau senam indah,” jelasnya.
Isu serupa bukan kali pertama menyeruak ke publik. Pada tahun 1997, Komnas HAM di bawah kepemimpinan Ali Said pernah memediasi kasus serupa terkait Oriental Circus Indonesia. Dalam pernyataan resminya saat itu, Komnas HAM menyatakan telah terjadi pelanggaran HAM terhadap para mantan pemain sirkus, termasuk eksploitasi anak dan pemisahan paksa dari orang tua sejak usia dini.
Laporan-laporan yang terus bermunculan dari tahun ke tahun mengindikasikan adanya persoalan mendasar yang belum benar-benar terselesaikan. Hingga kini, sejumlah mantan pemain sirkus masih menyuarakan perlakuan tidak layak yang mereka alami semasa bekerja di bawah naungan OCI.
Baca Juga: Jejak Bus Bali Berujung Maut di Grobogan: Misteri Kecelakaan Tragis Renggut Nyawa Dua Remaja!
Dengan kasus ini kembali mencuat, publik menanti langkah konkret dari pihak berwenang untuk mengusut kebenaran di balik panggung pertunjukan yang selama ini menjadi bagian dari kenangan masa kecil banyak orang.
Editor : Wiwin Meliana