BALIEXPRESS.ID — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menggaungkan seruan keras soal perlindungan hak anak di era digital.
Dalam upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional tingkat Provinsi Jawa Barat, Selasa (20/5/2025), Dedi menyentil keras berbagai pembiaran yang dilakukan masyarakat terhadap pelanggaran yang menimpa anak-anak.
"Anak membawa motor di bawah umur adalah pelanggaran hak anak, tapi kita membiarkannya. Kapan kita akan bertindak?" tegas Dedi di hadapan peserta upacara.
Ucapan itu seolah menjadi tamparan bagi orang tua, guru, bahkan aparat yang acap kali diam terhadap pelanggaran nyata.
Bukan hanya soal berkendara, Dedi juga menyoroti maraknya anak-anak yang menonton film tanpa pendampingan orang tua.
Menurutnya, ini juga bentuk pelanggaran hak anak yang sering diabaikan.
Ia menyayangkan sikap masyarakat yang kerap tutup mata.
"Anak-anak nonton tayangan dewasa, main game online sampai larut malam, bahkan terseret pada konten-konten tak pantas di media sosial, kita semua hanya diam," lanjutnya.
Dedi memperingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan, masa depan Indonesia bisa hancur.
"Negara ini akan runtuh jika kita terus berdiam dan tak bergerak menghadapi kerusakan moral generasi muda," ucapnya dengan nada penuh kekhawatiran.
Baginya, tanggung jawab tidak hanya berada di pundak orang tua, tapi juga para pemegang kekuasaan.
"Orang yang punya wewenang harus pakai kekuasaannya untuk mengubah kemungkaran jadi kebajikan," tegasnya.
Tak hanya bicara, Dedi juga menantang pemerintah pusat untuk bertindak tegas.
Ia mendesak agar segera diberlakukan aturan yang mengatur akses anak terhadap media sosial dan tayangan digital.
"Kalau kita cinta bangsa ini, maka lindungi anak-anak dari konten yang bukan haknya," katanya.
Dedi menilai, edukasi dan pembatasan akses digital bagi anak adalah langkah krusial untuk menyelamatkan masa depan bangsa.
Ia mengaku tak mampu melawan sendirian gelombang konten negatif yang terus membanjiri jagat maya.
"Sebesar apapun gagasan saya, sekuat apapun kekuasaan saya, saya tidak bisa melawan jutaan akun yang merasuki otak kiri dan kanan anak-anak kita," ujarnya pasrah tapi berapi-api.
Seruan Dedi Mulyadi ini bukan hanya ajakan, tapi juga peringatan keras bahwa diamnya kita hari ini akan berbuah petaka di masa depan.
Kini saatnya bertindak, sebelum generasi penerus bangsa tenggelam dalam arus digital yang tak terkendali. (*)
Editor : Nyoman Suarna