Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Disorot Usai Kecelakaan Maut, CCTV Di Perlintasan Magetan Tak Aktif Sejak 2023

Putu Ayu Aprilia Aryani • Kamis, 22 Mei 2025 | 19:04 WIB

CCTV yang berada di sekitar lokasi kecelakaan maut di perlintasan Magetan ternyata mati sejak 2023
CCTV yang berada di sekitar lokasi kecelakaan maut di perlintasan Magetan ternyata mati sejak 2023

BALIEXPRESS.ID-Kecelakaan maut yang terjadi di perlintasan sebidang JPL 08, Kelurahan Mangge, Kecamatan Barat, Magetan, pada Senin (19/5), masih menyisakan banyak tanda tanya.

Salah satu sorotan utama publik adalah keberadaan kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian yang ternyata sudah lama tidak berfungsi.

Baca Juga: Viral! Truk TNI AL Disebut Bawa Rokok Ilegal, Ternyata Hanya Salah Paham, Begini Penjelasan Bea Cukai

Menurut informasi yang dihimpun dari unggahan akun Instagram @jawapos.radarmadiun, terdapat tiga unit kamera terpasang di sekitar pos jaga perlintasan tersebut. Dua di antaranya bahkan menghadap langsung ke arah rel

Namun Alfaviega Septian Pravangasta, Humas Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya menjelaskan bahwa ketiga CCTV itu sudah mati sejak tahun 2023.

“Dari informasi Daop 7, CCTV memang sudah tidak berfungsi sejak 2023. Padahal, perannya sangat penting untuk merekam dan mengetahui kronologi kejadian,” ujarnya dikutip Kamis, 22 Mei 2025.

Alfa menjelaskan bahwa sejak akhir 2020, seluruh pengelolaan dan perawatan prasarana perkeretaapian, termasuk pos jaga, telah diserahkan kepada PT KAI. Hal itu sesuai dengan skema Infrastructure Maintenance and Operation (IMO) yang mengatur tanggung jawab PT KAI dalam merawat sarana dan prasarana operasional.

Baca Juga: Tiga Bulan Tinggal di Dapur Reyot Usai Longsor, Warga Petang Belum Dapat Bantuan

Ia menambahkan, selain CCTV, seluruh perangkat lain seperti sinyal, lonceng, dan alat komunikasi masih dalam kondisi operasional dan lengkap.

“Namun tetap saja, matinya CCTV menjadi kerugian besar. Itu bisa menjadi bukti visual utama dalam kecelakaan,” ungkapnya.

Kepala BTP Kelas I Surabaya DJKA Kemenhub, Denny Michels Adlan, menyatakan bahwa pihaknya telah meninjau langsung ke lokasi kecelakaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sistem persinyalan dan pola penjagaan dinilai masih berjalan baik.

Namun, pernyataan itu belum mampu meredam amarah publik. Unggahan @jawapos.radarmadiun dibanjiri komentar dari netizen yang mempertanyakan kinerja pihak terkait.

"Double track tp pos palang pintu nya pendek... harus nya tinggi biar visual lbh baik..siap2 kejadian yg sama terulang kembali kalo gak ada pembenahan." ketik akun @ananwr__.

"Pak @erickthohir silakan diaudit menyeluruh. Bagian operasional, bagian sapras, plus humas jangan lupa.... " tulis akun @deupix.

Baca Juga: Rumah Diterjang Longsor, Keluarga di Petang Tidur di Dapur Sejak Tiga Bulan, Begini Tanggapan Bupati Badung

"Sekedar kamera cctv saja mati, artinya sangat jelas, bahwa perawatan Kereta Api memang benar2 sangat tidak serius dalam menangani segala sistim yg ada di kereta api, jadi pantas akhirnya harus merenggut nyawa masyarakat didaerah saya, parah." komentar akun @irsyad_ansori.

"Seperti biasa kalo ada kejadian semua cctv di obyek'' vital mendadak mati." tulis akun @eckodhox.

"coeg, klopun benar cctv mati sejak 2023 terus pegawai atau instansi yang menangunginya kerjanya ngapain?? (bertanya dengan nada lembut)" tulis akun @setyo_dejan.

Kondisi ini memperkuat desakan publik agar keselamatan di perlintasan kereta api tidak dianggap remeh, apalagi sampai harus menunggu korban jiwa untuk bertindak.

Editor : Wiwin Meliana
#cctv #kecelakaan maut #magetan