BALIEXPRESS.ID-Langkah Sahrul Gunawan menolak keinginan anaknya kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menuai beragam tanggapan publik.
Aktor sekaligus Wakil Bupati Bandung itu menyatakan, keputusan tersebut tidak ada kaitannya dengan isu ijazah Presiden Jokowi.
Baca Juga: Waspada! Marak Penipuan Berkedok Aktivasi Identitas Kependudukan Digital di Tabanan
Sahrul menyampaikan klarifikasi melalui akun media sosialnya usai namanya ramai dikaitkan dengan isu yang menyeret almamater UGM.
“Dikaitkan dengan masalah ijazah palsu UGM, menggiring opini bahwa saya meragukan kredibilitas kampus UGM gara-gara Mulyono. Siapa Mulyono? Tokoh fiktif?” ujar Sahrul dalam unggahan tersebut.
Dikutip dari Jawa Pos Ia menegaskan dirinya tidak pernah meragukan keabsahan ijazah milik Jokowi dan percaya bahwa Presiden RI ke-7 itu lulus dari UGM.
“Terus terang saya sudah bosan dengan pemberitaan media mengenai ijazah palsu ini, apa nggak ada lagi hal yang penting untuk di blow up, yang lebih substantif, yang membangun untuk bangsa ini?” lanjutnya dikutip Selasa, 27 Mei 2025.
Baca Juga: Sempat Kabur, Pelaku Senggolan Maut di Jalan Kunti Seminyak Berhasil Ditangkap
Menurut Sahrul, keputusannya murni berdasarkan pertimbangan keluarga dan bukan karena sentimen terhadap institusi pendidikan.
Sahrul mengaku khawatir anaknya yang bernama Ezzar belum siap hidup mandiri di luar kota.
Hal tersebut juga menjadi kesepakatan bersama dengan mantan istrinya yang masih ingin anak mereka tinggal dekat.
“Kami (saya dan ibu kandung Ezzar) sepakat untuk memotivasi anak saya mengikuti test di UI untuk program yang sama, sehingga batal masuk UGM,” ungkapnya.
Pertimbangan lokasi kuliah yang lebih dekat dengan rumah menjadi alasan utama mengapa akhirnya Ezzar diarahkan ke Universitas Indonesia (UI).
Sahrul juga menepis anggapan bahwa ia tidak mendukung anaknya berkembang atau belajar hidup mandiri.
Baca Juga: TRAGIS!Disenggol Pengendara Nmax, Ibu Meninggal Dunia di Seminyak, Pelaku Malah Kabur
“Bukan tidak ingin mengajarkan anak untuk mandiri atau tidak membebaskan anak memilih jurusan yang diinginkan, bukan," tegasnya.
Menurutnya, sebagai orang tua, ia dan mantan istri lebih memahami kesiapan mental dan kondisi anak secara menyeluruh.
"Dan tidak perlu kami sampaikan juga kepada publik apa alasannya kan?” pungkas Sahrul menutup pernyataannya.
Editor : Wiwin Meliana