Kasodo merupakan Tradisi sakral yang dilangsungkan di Pura Luhur Poten, yang terletak di lereng Gunung Bromo, dan berlangsung mulai tengah malam hingga menjelang pagi.
Pelaksanaan ritual ini merupakan wujud ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi serta doa bersama agar masyarakat senantiasa dijauhkan dari mara bahaya, memperoleh keselamatan, dan dilimpahi keberkahan.
Keistimewaan dari ritual ini terletak pada praktik persembahan khas masyarakat adat Tengger, yakni dengan menghaturkan aneka hasil pertanian seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan hewan ternak dengan cara melemparkannya ke kawah Bromo.
Persembahan ini diyakini sebagai bentuk permohonan agar panen pada tahun-tahun berikutnya semakin melimpah dan kehidupan masyarakat senantiasa sejahtera.
Sebelum dilaksanakan upacara Adat Kasada, ada beberapa rangkaiaan upacara sebelumnya. Rangkaian acara dimulai sejak Minggu, (1/6) dengan Nanjep Karya di Pura Luhur Poten, menandai persiapan ritual secara simbolik.
Kegiatan ini dilanjutkan dengan Mendak Tirtha pada Minggu (8/6) mendatang di Mada Karipura, yang merupakan prosesi pengambilan air suci sebagai sumber penyucian dalam seluruh rangkaian upacara.
Pada Senin, (9/6), umat Hindu Tengger menggelar Pembekalan di Pura Luhur Poten sebagai bentuk penguatan rohani bagi peserta dan pelaksana upacara.
Sehari setelahnya, pada 10 Juni, dilaksanakan Pawedalan Pura atau penyucian pura sebagai pusat spiritual perayaan Kasada.
Puncak acara berlangsung pada Rabu (11/6) dini hari, dimulai dengan pembukaan ritual pada pukul 01.00 WIB di kawasan Cemara Lawang.
Prosesi dilanjutkan pada pukul 03.00 WIB dengan pelaksanaan Yadnya Kasada dan Labuh di Pura Luhur Poten dan Kawah Bromo.
Dalam upacara ini, umat mempersembahkan hasil bumi sebagai wujud bhakti kepada Sang Hyang Widhi dan roh leluhur.
Malam harinya, pukul 19.00 WIB, digelar Pujan Kasada di Desa-desa wilayah Tengger sebagai ungkapan syukur atas kelancaran upacara dan keberkahan hidup masyarakat.
Sebagai penutup, pada Kamis, 12 Juni 2025 dilaksanakan ritual Nglebar di Pura Luhur Poten, menandai berakhirnya seluruh rangkaian Kasada.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Drs. Bambang Suprapto, M.Pd, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menjaga nilai-nilai luhur warisan budaya ini.
Ia menegaskan bahwa Kasada tidak hanya bermakna religius, tetapi juga menjadi identitas kebudayaan yang mempererat solidaritas masyarakat Tengger.
Upacara Kasada merupakan manifestasi harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan dalam konsep Tri Hita Karana yang menjadi landasan hidup masyarakat Hindu Bali dan Tengger.
Kehadiran wisatawan dan peneliti budaya juga menunjukkan tingginya daya tarik spiritual dan kultural dari tradisi ini di mata dunia. (dik)
Editor : I Putu Mardika