Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Viral! HRD Sebut Job Fair Hanya Gimmick Dinas: Pelamar Cuma Jadi Formalitas

Wiwin Meliana • Senin, 2 Juni 2025 | 19:36 WIB

Viral seorang HRD ungkap bahwa job fair hanya sebuah formalitas
Viral seorang HRD ungkap bahwa job fair hanya sebuah formalitas

BALIEXPRESS.ID – Antusiasme ribuan pencari kerja dalam menghadiri job fair beberapa waktu belakangan memang luar biasa. Banyak dari mereka rela berdesak-desakan hingga pingsan demi mendapatkan peluang kerja dari perusahaan yang diincar.

Baca Juga: Lindungi Lahan Sawah, Bupati Buleleng Beri Diskon Pajak 90 Persen!

Namun di balik semangat anak muda yang masih tinggi mencari pekerjaan melalui ajang job fair, terungkap sebuah kenyataan memprihatinkan: sekitar 90 persen perusahaan peserta job fair ternyata tidak sedang membuka lowongan kerja.

Baca Juga: WNA Asal Prancis Terseret Arus di Pantai Atuh Berhasil Dievakuasi Tim Gabungan, Begini Kondisinya

Fakta tersebut diungkap oleh seorang praktisi Human Resource Development (HRD) melalui akun Instagram @folkkonoha, yang menyebut bahwa ajang job fair saat ini lebih banyak dimanfaatkan untuk formalitas dan pencitraan belaka.

“Job fair itu omong kosong. Heran kok masih ada yang cari kerja offline sekarang. Sekarang semua sudah online. Kalaupun mau offline, ya langsung ke perusahaan,” ujar sang HRD dalam video viral tersebut.

Ia mengklaim, keikutsertaan banyak perusahaan dalam job fair tidak selalu menandakan bahwa mereka benar-benar mencari kandidat. Bahkan, disebutkan bahwa sebagian besar hanya datang untuk memenuhi kerja sama dengan instansi pemerintah atau sekadar branding institusi.

“Job fair itu hanya alat untuk pencitraan dinas. KPI orang kedinasan itu. Mereka butuh event, dan perusahaan bantu meramaikan. Tapi ya tidak benar-benar buka lowongan,” tegasnya.

Baca Juga: MEMANAS! Hotman Paris Kembali Sindir Keras Rocky Gerung: Cuma Hapalin Teori, Nggak Ada Karya!

Pernyataan ini memicu diskusi luas di kalangan warganet dan para pencari kerja, terutama mereka yang pernah datang langsung ke lokasi job fair. Banyak di antaranya mengaku kecewa karena tidak pernah mendapatkan panggilan kerja setelah menyerahkan berkas ke stan perusahaan.

Lebih lanjut, HRD tersebut menilai bahwa era job fair sebetulnya sudah lewat sejak tahun 2010. Di masa sekarang, perusahaan lebih memilih platform online atau situs pencari kerja resmi yang dinilai lebih efisien dalam menjaring kandidat berkualitas.

“Tahun 2010 itu akhir masa job fair. Sekarang kalau butuh karyawan, perusahaan langsung buka lowongan di portal rekrutmen digital dengan sistem yang lebih selektif,” jelasnya.

Baca Juga: Putri Koster Turun Langsung Gotong Royong di Gianyar, Dorong Pengelolaan Sampah dari Sumbernya

Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: apakah job fair masih relevan di era digital saat ini, atau justru menjadi bentuk harapan palsu bagi para pencari kerja yang belum memahami dinamika rekrutmen modern?

Di tengah situasi ekonomi yang menantang dan angka pengangguran yang tinggi, transparansi dan efektivitas dalam sistem rekrutmen menjadi hal yang sangat krusial. Banyak pihak berharap agar kegiatan semacam ini dievaluasi secara menyeluruh, demi menghindari ekspektasi palsu dan menyelamatkan energi para pencari kerja yang tulus berjuang.

Editor : Wiwin Meliana
#hrd #formalitas #job fair #pelamar