BALIEXPRESS.ID– Seorang siswi SMAN Tengah Tani, Maonyq Maysti Hawa, dilaporkan nekat menenggak racun pembersih lantai di sebuah toko buah di kawasan Pasar Kalitanjung, Kota Cirebon.
Baca Juga: Bikin Warganet Geram! Dua Remaja Asik Joget TikTok di Lokasi Kebakaran
Insiden yang mengejutkan ini terjadi diduga karena tekanan ekonomi yang berat.
Saat ini, Maonyq tengah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati, Kota Cirebon.
Menurut kuasa hukum korban, A. Faozan TZ, SH, MH, tindakan nekat tersebut didasari oleh kondisi keuangan keluarga yang tidak mampu membiayai kebutuhan sekolah dan tempat tinggal Maonyq.
Baca Juga: Antrean Labubu di Pop Mart Bali Ricuh, AWK Kritik Gaya Promosi; Marketing Krodit Tak Cocok di Bali
"Maonyq dikeluarkan dari sekolah dan juga diusir dari tempat kos karena tidak mampu bayar," ujarnya, Senin (9/6/2025).
Faozan menjelaskan bahwa ayah Maonyq tidak sanggup mengumpulkan dana untuk tahun ajaran baru.
Sementara penghasilan korban yang hanya Rp 20 ribu per hari dari bekerja di toko buah, tak cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari, apalagi pendidikan.
Namun, Kepala SMAN Tengah Tani, Hj. Euis Yeti Srinawati, MPd, membantah keras tudingan bahwa pihak sekolah telah mengeluarkan Maonyq.
Ia menegaskan bahwa tidak ada sistem pemecatan dalam dunia pendidikan.
Baca Juga: Beredar Video Lama Keributan di Nusa Dua, Polisi Tegaskan Pelaku Telah Diproses Hukum
“Pihak sekolah tidak pernah mengeluarkan atau DO. Apalagi sampai ada istilah dipecat, itu tidak benar. Soal biaya juga tidak ada yang dipungut. Itu fitnah,” tegas Euis saat dikonfirmasi radarcirebon.com.
Euis menyampaikan bahwa Maonyq memang sempat tercatat sebagai siswa pada tahun ajaran 2024, tetapi setelah satu semester, ia tidak pernah datang lagi ke sekolah. Pihak sekolah bahkan telah melakukan kunjungan ke rumahnya dan diberi alasan bahwa Maonyq tidak punya ongkos ke sekolah.
“Setelah itu kami kehilangan kabar karena alamatnya berpindah-pindah. Tapi kami tidak pernah menghapus data siswa. Di sistem Dapodik pun namanya masih terdaftar,” jelasnya.
Euis pun menyatakan keterbukaannya jika Maonyq ingin kembali melanjutkan sekolah. Ia juga berencana menjenguk Maonyq di rumah sakit.
“Kalau siswa itu mau sekolah lagi, kami persilakan. Kami juga akan datang menjenguknya,” ujar Euis.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik dan membuka kembali wacana tentang pentingnya sistem dukungan psikososial bagi pelajar, terutama mereka yang menghadapi kesulitan ekonomi.
Editor : Wiwin Meliana