BALIEXPRESS.ID – Gunung Rinjani di Pulau Lombok kembali menjadi sorotan publik, kali ini lewat pernyataan eksploratif dari Agam Rinjani, seorang pendaki sekaligus aktivis lingkungan yang telah menetap lama di kawasan sekitar gunung tersebut.
Dalam sebuah perbincangan eksklusif bersama Podcast YIM OFFICIAL, Agam menyebut bahwa Rinjani merupakan gunung paling komplit di Indonesia, bahkan mengungguli gunung-gunung populer lainnya seperti Semeru, Merbabu, hingga hutan tropis di Sulawesi.
“Kalau di Jawa, Merbabu punya sabana yang cantik—di Rinjani juga ada. Di Jawa ada Semeru dengan pasir vulkanik—di Rinjani juga ada. Mau suasana hutan seperti di Sulawesi? Rinjani juga punya. Bahkan pemandian air panas alami pun ada,” ujar Agam penuh semangat dikutip pada Senin (30/06/2025).
Baca Juga: Kantor Pertanahan Klungkung Gelar Apel Pagi, Tekankan Disiplin dan Sinergi
Lebih dari sekadar keindahan lanskap, Agam menilai Gunung Rinjani menyimpan kekayaan ekosistem, nilai spiritual, serta kearifan budaya lokal yang tidak bisa ditemukan di satu tempat sekaligus selain di Rinjani.
“Rinjani itu keren dari sisi manapun. Mau dari jalur Torean, Sembalun, Senaru—semuanya punya cerita dan keindahan masing-masing. Tidak ada yang kalah,” tambahnya.
Agam juga menekankan bahwa Rinjani bukan hanya sekadar destinasi pendakian, melainkan sebuah laboratorium alam dan ruang spiritualitas bagi siapa pun yang ingin menyatu dengan alam.
Pernyataan Agam sontak mendapat banyak respons positif dari para pendaki dan pecinta alam di media sosial.
Banyak yang mengamini bahwa Rinjani memang istimewa dan tak tergantikan.
Gunung Rinjani yang menjulang setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut ini memang telah lama dikenal sebagai salah satu gunung terindah di Asia Tenggara, dengan panorama yang lengkap: dari danau kaldera Segara Anak, sabana luas, air terjun, hingga sumber air panas alami.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Minta Maaf Soal Keluhan Warga, Warganet Justru Singgung Intoleransi di Sukabumi
Melalui suaranya, Agam mengajak masyarakat untuk tidak hanya menikmati Rinjani, tetapi juga menjaga dan melestarikannya, mengingat tekanan wisata dan perubahan iklim semakin nyata dirasakan.
Editor : Wiwin Meliana