BALIEXPRESS.ID-Proses evakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana De Souza Pereira Marins, yang dilakukan oleh Agam Rinjani bersama tim SAR gabungan, menjadi sorotan nasional dan internasional.
Dalam wawancara eksklusif yang diunggah di kanal YouTube YIM OFFICIAL pada Sabtu, 28 Juni 2025, Agam mengungkap secara mendalam perjuangan dan strategi yang dijalankannya dalam misi penyelamatan penuh risiko di lereng curam Gunung Rinjani.
Baca Juga: Dokter Tim Bali United Ungkap Kondisi Made Tito, Siap Comeback Musim Ini?
Dalam wawancara tersebut, Agam menjelaskan bahwa persiapan teknis untuk menghadapi situasi darurat seperti ini telah ia rancang jauh sebelum insiden terjadi.
"Jadi sedari awal memang sudah saya siapkan, dari 4 tahun lalu saya sudah siapkan anchor-anchor di Rinjani, orang tidak tahu," ungkap Agam.
Ia menceritakan bahwa saat proyek pembangunan jalur geograp dilakukan, ia turut andil dalam penguatan struktur jalur tersebut.
"Jadi dulu ada pengerjaan jalur geograp itu yang besinya cuma ditanam, saya suruh rubah kontraktornya, ganti besi 12 panjang 2 meter setengah. Buat apa? Ya saya bohongi kontraktornya, padahal sudah mentok sebenarnya, bisa sebenernya, tapi ada sisi lain yang namanya pasir ya nanti goyang, kalau lewat kan bisa lepas,” jelasnya.
Baca Juga: Bali United Gaet Mike Hauptmeijer, Pernah Berkiprah di Klub yang Sama dengan Johnny Jansen
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa besi sepanjang 1,5 meter yang ditanam tersebut mampu mengunci geograde tangga ke puncak, sehingga bisa dimanfaatkan dalam kondisi darurat.
Selain itu, ia juga telah menyiapkan titik-titik pengaman tambahan untuk pemasangan tali evakuasi.
"Karena kan saya sudah buat loop lagi di atasnya, lubang, yang siap tinggal tali dicantol di situ," ucapnya.
Agam juga menjelaskan bahwa kondisi itu tidak banyak dan bahkan jarang orang yang mengetahuinya.
"Jarang orang tahu, dan waktu teman-teman naik tinggal bawa itu, tinggal cabut di atas patok tinggal diikat, itu bisa dipakai. Kemudian ada pohon juga di atas," ujarnya.
Agam kemudian menjelaskan kronologi evakuasi jenazah Juliana yang melibatkan berbagai tantangan alam ekstrem.
"Jadi waktu turun kan sampai di titik 400 itu tidak lagi anchor turun ke bawah. Semua batuan lepas, jadi tidak mungkin tali yang dari 400 itu disambung lagi, itu bisa bebannya sampai berapa ton kalau mau ditarik harus ada deviasi namanya, itu teknik untuk membagi bebannya lagi, jadi anchor lagi, supaya bisa turun lebih aman," jelasnya.
Ia menyebut tim pertama yang mencapai titik korban adalah dari Basarnas.
"Ngebor di situ, kemudian turun, yang turun pertama itu teman-teman dari Basarnas, setelah sampai di bawah dihubungi lewat HT, ternyata kondisinya sudah MD (meninggal dunia)," ucapnya.
Agam juga menambahkan bahwa proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati.
Setelah tim pertama, anggota tim lain termasuk Mas Tio menyusul turun ke lokasi jenazah.
"Untuk lokasi di sana susah untuk turun bertujuh, kita kan bertujuh, empat di bawah, tiga di atas persiapan untuk penarikan," jelasnya.
Awalnya, korban direncanakan dievakuasi melalui jalur danau, namun kondisi medan tidak memungkinkan.
Namun setelah meninjau jalur, tim menyadari bahwa jarak dan kondisi batuan sangat berbahaya.
"Tapi ternyata di lapangan berbeda, kami melihat masih lebih jauh lagi turun ke danau. Masih sekitar 400–500 meter lagi dan itu batuannya juga tidak sesuai dengan gambar yang di Google sama yang ada di thermal di drone," ucapnya.
Agam melanjutkan bahwa batuan di jalur tersebut sangat rapuh dan rawan longsor, sehingga akhirnya, diputuskan untuk menarik jenazah ke atas.
"Makanya kita diskusikan lagi bagaimana caranya biar naik ke atas di titik anchor dulu. Akhirnya kita holding naik, gantian," jelasnya.
Proses evakuasi pun dilakukan perlahan dengan pertimbangan penuh.
"Satu persatu naik, kemudian saya yang bersama mayat ditarik pelan-pelan, karena harus ada yang narik, ada yang seimbangkan jenazah karena kalau tidak bisa nyangkut. Kami lakukan jam 6 pagi," jelasnya.
Editor : Wiwin Meliana