BALIEXPRESS.ID-Insiden perusakan rumah pribadi yang kerap dijadikan tempat retret pelajar Kristen di Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berbuntut panjang.
Peristiwa yang sempat memicu kehebohan di media sosial ini langsung ditindaklanjuti oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang turun langsung ke lokasi kejadian dan bertemu dengan korban.
Baca Juga: Dituding Lambat Atasi Kasus Intoleran di Sukabumi, Begini Penjelasan Dedi Mulyadi
Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram resminya, @dedimulyadi71, pada Senin, 30 Juni 2025, Dedi menegaskan bahwa rumah yang dirusak massa bukanlah gereja atau rumah ibadah seperti yang ramai disebutkan, melainkan rumah pribadi milik Maria Veronica Nina.
“Ini ibu korban dari perusakan rumah ya. Bukan gereja, bukan rumah ibadah. Tapi perusakan rumah. Rumah milik siapa bu? Ibu Nina,” tegas Dedi, dikutip Selasa, 1 Juli 2025.
Gubernur yang dikenal akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) ini menyatakan bahwa meskipun ia telah memberikan bantuan berupa dana dan dukungan psikologis, penegakan hukum tetap menjadi prioritas utama.
Baca Juga: TRAGIS! Nyoman Budiasa Meninggal Dihantam Truk Molen, Warga Bali Galang Donasi
“Yang berikutnya persoalan perusakannya kita serahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian. Untuk bertindak secara objektif. Dan sehingga masalah ini cepat selesai,” ujarnya.
Sebagai bentuk empati dan tanggung jawab, Dedi menyampaikan bahwa ia telah menyiapkan bantuan dana sebesar Rp 100 juta untuk membantu memperbaiki bangunan yang rusak akibat perusakan tersebut.
“Tadi saya sudah nyiapin, hari ini saya transfer Rp 100 juta untuk memperbaiki bangunan yang rusak. Agar ibunya tenang,” ucapnya.
Baca Juga: AeroXSpace: Taman Bermain Indoor Terbesar di Bali, Destinasi Seru untuk Liburan Keluarga
Tidak hanya dari sisi materi, Gubernur Jawa Barat juga menaruh perhatian besar terhadap kondisi psikologis keluarga korban, terutama anak-anak yang diduga mengalami trauma akibat peristiwa itu.
“Besok saya kirim psikiater untuk membantu psikologi anak-anak ibu dan ibu sekeluarga sebagai terapinya. Agar ibu tenang kembali,” sambungnya.
Dalam kunjungannya, Dedi juga berdialog dengan warga setempat untuk memastikan kerukunan sosial tetap terjaga. Ia secara langsung menanyakan apakah hubungan antar tetangga masih harmonis.
“Ini ibu saya tanya, ini tetangga bukan? Rukun enggak?” tanyanya, yang kemudian dijawab secara serempak oleh warga, “Rukun.”
Sementara itu, Maria Veronica Nina berharap agar kejadian tersebut menjadi pelajaran bersama dan tidak menimbulkan perpecahan antar umat beragama.
“Mari kita sama-sama bangun kerukunan walaupun kita berbeda. Bhineka Tunggal Ika,” ujar Nina, penuh harap.
Baca Juga: AeroXSpace: Taman Bermain Indoor Terbesar di Bali, Destinasi Seru untuk Liburan Keluarga
Unggahan Dedi Mulyadi mengenai penanganan kasus ini pun menuai berbagai tanggapan dari masyarakat dunia maya.
Banyak yang memberikan apresiasi, namun tidak sedikit pula yang menuntut agar proses hukum benar-benar ditegakkan.
“Saya sangat sangat menghargai solusi yang Bapak berikan, tapi mohon untuk setiap tangan-tangan warga yang merusak dan mulut-mulut yang memprovokasi, dapat diproses secara hukum juga, mengingat hal demikian bisa saja terjadi kembali,” tulis akun @wullurpieter.
“Saya sebagai muslim sangat sangat malu, toleransi hanya dalam ucapan aja, padahal kita masih bisa berdampingan tanpa harus mengusik satu sama lain. Islam gak mengajarkan umatnya begitu,” ketik akun @resyaandw.
“Butuh undang-undang yang kuat, yang bisa melindungi setiap orang yang akan beribadah,” komentar akun @andreas_kurnianto.
Baca Juga: Empat Pendaki Tersesat di Gunung Batukaru Berhasil Dievakuasi, Tim SAR Ungkap Kondisinya
“Kawal proses hukumnya kang Deddy, jangan sampe damai. Sedih ngeliatnya,” ujar akun @yere_fs.
Peristiwa ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan mampu menjaga harmoni sosial demi mewujudkan Jawa Barat yang aman, damai, dan inklusif.
Editor : Wiwin Meliana