Sosok Raja Minyak Riza Chalid Jadi Tersangka Korupsi Pertamina Rp 285 Triliun: Sempat Dikaitkan dengan Skandal 'Papa Minta Saham'
I Putu Suyatra• Jumat, 11 Juli 2025 | 17:32 WIB
Riza Chalid. (Istimewa)
BALIEXPRESS.ID – Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali mengguncang jagat migas nasional! Setelah mengusut tuntas berbagai kasus mega korupsi, kini Kejagung secara resmi menetapkan Muhammad Riza Chalid, sang pengusaha minyak dan gas (migas) kondang, sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di lingkungan PT Pertamina (Persero) serta anak usahanya, Subholding, dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk periode 2018–2023.
Penetapan Riza Chalid, yang dikenal luas sebagai "raja minyak" karena pengaruh dominannya dalam industri ini, diumumkan langsung oleh Kejagung pada Kamis (10/7) malam.
Ia menyandang status tersangka bersama delapan orang lainnya, menambah daftar panjang total 18 tersangka yang sudah dibidik Kejaksaan Agung, termasuk sejumlah petinggi dan mantan pejabat Pertamina.
Kerugian Negara Fantastis dan Jejak Misterius Riza Chalid
Kasus ini bukan sembarang kasus. Diduga kuat, skandal korupsi ini telah merugikan negara hingga Rp 285 triliun!
Angka yang fantastis ini tentu memicu pertanyaan besar: sejauh mana peran Riza Chalid dalam praktik curang ini?
Riza Chalid diketahui merupakan beneficial owner dari PT Orbit Terminal Merak, sebuah perusahaan vital di bidang penyimpanan dan logistik energi.
Namun, keberadaannya saat ini menjadi sorotan utama. Hingga berita ini diturunkan, Riza Chalid belum ditahan karena tengah berada di Singapura.
Kejagung menegaskan akan menempuh upaya hukum lanjutan untuk membawa "raja minyak" ini pulang dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Siapa Sebenarnya Riza Chalid? Dari Petral hingga "Papa Minta Saham"
Bagi yang mengikuti perkembangan dunia migas Indonesia, nama Riza Chalid bukanlah nama baru.
Julukan "raja minyak" disematkan padanya bukan tanpa alasan.
Ia dikenal memiliki kendali dan pengaruh besar dalam pengadaan serta distribusi bahan bakar minyak nasional.
Pria ini sempat mengendalikan Pertamina Energy Trading Ltd. (Petral), anak usaha Pertamina di Singapura yang menjadi kunci dalam pengadaan minyak mentah dari luar negeri.
Kiprahnya semakin mencuat sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an, aktif mengelola berbagai perusahaan pemasok BBM seperti PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), dan yang terbaru PT Orbit Terminal Merak.
Meski demikian, Riza Chalid dikenal sangat tertutup dari sorotan publik, lebih memilih mengendalikan strategi dari balik layar.
Rekam jejaknya juga tak luput dari kontroversi.
Pada tahun 2015, namanya mencuat dalam skandal politik "Papa Minta Saham", di mana ia disebut-sebut hadir dalam pertemuan antara Ketua DPR Setya Novanto dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia.
Meskipun tak berujung status tersangka, keterlibatannya dalam kasus tersebut memperkuat citra Riza Chalid sebagai aktor sentral dalam "permainan" kekuasaan dan bisnis migas nasional. ***