BALIEXPRESS.ID – Mantan prajurit Marinir TNI Angkatan Laut, Satria Arta Kumbara, menyampaikan permintaan maaf dan penyesalan mendalam setelah menjadi tentara bayaran di Rusia.
Baca Juga: KISAH PILU! Ratusan Bibit Durian Warga Sudaji Mati Mendadak, Diduga Disemprot Cairan Beracun
Lewat pernyataan terbuka, Satria kini memohon bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk bisa kembali ke Indonesia.
Satria sebelumnya diberhentikan tidak dengan hormat dari dinas militer setelah dinyatakan desersi dari tugasnya di Inspektorat Korps Marinir (Itkomar).
Ia juga telah dijatuhi hukuman satu tahun penjara oleh Pengadilan Militer atas tindakannya meninggalkan satuan secara ilegal.
Baca Juga: Terus Bertambah, DJ Panda Dicancel 14 Klub Malam dan Festival Besar, Kena Karma?
Keputusannya bergabung dengan tentara asing, khususnya pasukan Rusia, menjadi sorotan publik dan media nasional. Langkah tersebut dianggap mencoreng kehormatan institusi militer Indonesia, terlebih karena dilakukan tanpa izin resmi dari negara.
Dalam keterangannya, Satria mengaku menyesal dan menyadari kesalahan yang telah dibuat.
Ia menyampaikan bahwa keputusannya itu diambil dalam kondisi tertekan dan kini berharap bisa kembali ke Tanah Air serta memulai hidup baru.
Baca Juga: Diserbu Netizen, Klarifikasi DJ Panda Dituding Panik Usai Kehilangan Job
“Mohon izin Bapak atas ketidaktahuan saya, saya menandatangani Kerjasama dengan kementerian pertahanan Rusia yang menyebabkan status warga negara Indonesia saya dicatut,” ungkapnya.
Kini Satria Arta Kumbara meminta pertolongan Presiden Prabowo untuk bisa mengakhiri kontraknya tersebut.
Kasus ini menjadi pembelajaran penting bagi para prajurit aktif agar tidak mudah tergoda oleh janji-janji dari luar negeri yang bisa mengancam kedaulatan dan loyalitas terhadap bangsa sendiri.
Baca Juga: DJ Panda Beberkan Alasan Hubungan dengan Erika Carlina Kandas, Dipicu Masalah Sepele
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah atau Kementerian Pertahanan terkait kemungkinan pemulangan Satria Arta Kumbara ke Indonesia.
Editor : Wiwin Meliana