BALIEXPRESS.ID– Kritik tajam disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron, terhadap kondisi sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masih mengalami kerugian, namun para pejabatnya justru terlihat hidup dalam kemewahan.
Baca Juga: Terlibat Skandal PAW Harun Masiku, Hasto Kristiyanto Divonis 3,5 Tahun
Dalam rapat pembahasan kebijakan BUMN dan rencana pembentukan superholding Danantara, Herman menyoroti ketimpangan mencolok antara performa keuangan perusahaan dengan gaya hidup para petingginya.
“Kadang perusahaan merugi, tapi para direksinya tetap hidup mewah tanpa rasa malu,” tegas politisi dari Fraksi Demokrat itu dalam rapat di Gedung DPR, Jakarta dikutip pada Sabtu (26/07/2025).
Herman yang berasal dari daerah pemilihan Cirebon dan Indramayu ini menilai bahwa persoalan utama BUMN bukan semata terletak pada struktur atau strategi, tetapi lebih pada budaya kerja dan moralitas pimpinan.
Baca Juga: Waduh! Kasus Curanmor di Bangli Bertambah Bulan Ini, Motor Warga Peninjoan Raib Depan Pura
Ia menyebut bahwa kultur lama yang sarat privilese masih melekat kuat, sehingga reformasi di tubuh BUMN kerap tidak menyentuh akar masalah.
“Yang pada akhirnya yang rugi adalah negara, karena ini perusahaan milik negara bukan milik orang tuanya,” ujar Herman.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara tiga aspek utama dalam mengelola perusahaan negara: pengetahuan, keterampilan, dan sikap (attitude).
Menurutnya, tanpa sikap yang baik, keahlian dan ilmu teknis pun menjadi tidak berguna.
Pernyataan Herman ini menjadi sorotan publik di tengah berbagai laporan kerugian BUMN yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Baca Juga: Tetap Tenang! Soal Isu Amplop Kondangan Kena Pajak, Mesesneg Bilang Begini
Di saat bersamaan, tak sedikit pejabat BUMN yang tampil mencolok dengan gaya hidup glamor, memicu pertanyaan soal integritas dan tanggung jawab sosial mereka sebagai pengelola aset negara.
Rapat tersebut juga menjadi bagian dari pembahasan besar mengenai pembentukan superholding BUMN, Danantara, yang diharapkan dapat memperbaiki tata kelola dan efisiensi perusahaan pelat merah ke depan.
Editor : Wiwin Meliana