BALIEXPRESS.ID-Media sosial dihebohkan oleh sebuah video viral yang memperlihatkan seorang pria mengenakan kostum Rangda sambil berjoget diiringi musik "horeg" asal Jawa Timur.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun Instagram @tabanan_update dan langsung menuai gelombang kritik dari warganet, khususnya masyarakat Bali.
Baca Juga: Bangli Usulkan Barong Brutuk Jadi Warisan Budaya Takbenda, Simak Keunikannya!
Dalam potongan video berdurasi singkat itu, tampak seseorang mengenakan atribut Rangda—tokoh mitologi Bali yang disakralkan sebagai ratu iblis dalam tradisi Hindu Bali.
Namun alih-alih membawakan tarian Rangda sesuai pakem, pria tersebut justru berjoget bebas, tanpa ekspresi dan penjiwaan khas tari sakral tersebut.
Yang paling memicu reaksi keras adalah musik pengiring yang digunakan. Bukan gamelan Bali seperti biasanya, melainkan musik "horeg"—musik remix bernuansa dangdut koplo yang populer di Jawa Timur.
Hal ini dianggap mencederai nilai-nilai budaya dan spiritualitas tarian sakral Bali.
Baca Juga: Momen Menegangkan! Dokter di Rusia Diguncang Gempa M8,7 Saat Lakukan Operasi
Pakem tari Rangda sendiri merupakan bagian dari warisan budaya Bali yang sarat nilai religius.
Tarian ini biasanya dibawakan dalam upacara keagamaan dan memiliki aturan khusus dalam gerak, busana, serta ekspresi yang tidak boleh diubah sembarangan.
Warganet Bali pun menyayangkan tindakan tersebut, menyebut aksi joget itu sebagai bentuk pelecehan budaya yang tidak pantas dipertontonkan secara publik, apalagi diunggah ke media sosial.
“Kalo dibalikin dibilang playing victim,” tulis akun @_putudion.
“Kalau mau buat rangda, buatlah rangda style di sana,” tulis akun @jung_sas.
Sejumlah warganet pun ramai-ramai menandai akun dua tokoh Pejabat Bali yakni Arya Wedakarna dan Niluh Djelantik.
Baca Juga: Digulung Tsunami, Terekam Empat Paus Terdampar di Pantai Jepang
Hingga saat ini, belum diketahui identitas pelaku dalam video tersebut maupun konteks lokasi dan acara di mana kejadian itu berlangsung.
Namun banyak pihak mendesak agar pelaku segera meminta maaf dan video tersebut diturunkan demi menjaga kehormatan budaya Bali.
Editor : Wiwin Meliana