BALIEXPRESS.ID – Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, sebuah fenomena tak biasa mencuat dan memicu kontroversi nasional.
Di sejumlah daerah, warga terlihat mengibarkan bendera bajak laut Straw Hat dari serial anime One Piece, lengkap dengan lambang tengkorak dan topi jerami, alih-alih Sang Merah Putih.
Baca Juga: Viral Julukan “Thomas Alva Edi Sound Horeg”, Ternyata Memed Hanya Operator Sound Karnaval
Fenomena ini terekam dalam sejumlah unggahan, salah satunya lewat akun TikTok @mytarmidi1, dan dengan cepat viral di berbagai platform media sosial.
Aksi tersebut langsung menuai respons beragam — mulai dari kritik keras hingga dukungan yang menyebutnya sebagai bentuk nasionalisme alternatif.
Menurut beberapa pendukung tren ini, bendera One Piece bukanlah simbol penghinaan terhadap negara, melainkan ekspresi perlawanan damai terhadap situasi sosial-politik yang mereka nilai tidak sejalan dengan cita-cita kemerdekaan.
Dalam dunia One Piece, bendera bajak laut Straw Hat melambangkan semangat kebebasan, perjuangan melawan tirani, dan solidaritas tanpa pamrih.
Nilai-nilai inilah yang kini dijadikan refleksi kekecewaan terhadap sistem yang dianggap telah melenceng dari semangat proklamasi 1945.
Fenomena ini menimbulkan perdebatan tajam di ruang publik. Beberapa pengamat sosial justru menyebutnya sebagai bentuk nasionalisme baru yang tumbuh dari budaya populer.
Bagi mereka, generasi muda kini lebih dekat dengan simbol-simbol budaya massa yang mampu menyampaikan kritik secara kreatif, tanpa harus turun ke jalan.
Baca Juga: PARAH! Oknum ASN Ditangkap karena Oplos Beras Bermerek, Begini Modus Liciknya
“Ini bukan sekadar tren viral. Ini adalah refleksi dari kekecewaan yang mendalam. Dan ketika ekspresi konvensional tak lagi didengar, simbol pop culture bisa menjadi bahasa baru rakyat,” ujar seorang pengamat budaya dalam diskusi daring.
Kontroversi ini pun mengundang pertanyaan mendasar apakah mencintai negara selalu harus diwujudkan dalam bentuk konvensional? Apakah ekspresi kekecewaan yang damai dan simbolik justru merupakan cinta Tanah Air yang lebih jujur dan relevan?
Editor : Wiwin Meliana