BALIEXPRESS.ID– Pemerintah Indonesia melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan kemungkinan untuk memblokir gim Roblox, apabila terbukti mengandung unsur kekerasan yang dapat berdampak negatif terhadap perilaku generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan Prasetyo sebagai respons atas larangan dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang melarang siswa bermain Roblox karena dinilai banyak mengandung adegan kekerasan.
“Kalau memang kita merasa sudah melewati batas, apa yang ditampilkan di situ mempengaruhi perilaku dari adik-adik kita, ya tidak menutup kemungkinan (diblokir). Kita mau melindungi generasi kita, enggak ragu-ragu juga kita. Kalau memang itu mengandung unsur-unsur kekerasan, ya kita tutup, enggak ada masalah,” tegas Prasetyo dalam pernyataan resmi yang dikutip dari video Sekretariat Presiden, Kamis (7/8/2025).
Baca Juga: Di Tengah Polemik Royalti, Ahmad Dhani Gratiskan Lagu Dewa 19 Diputar di Kafe dan Restoran
Prasetyo menegaskan bahwa perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada Roblox semata, melainkan juga pada seluruh bentuk konten digital, termasuk media sosial, siaran televisi, pemberitaan di media dan game digital lainnya.
“Apapun itu bentuknya, mau game, mau pemberitaan, mau melalui media mainstream, mau melalui media sosial, memang ini menjadi keresahan kita semua,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Kementrian Komunikasi Digital (Komdigi) secara aktif melakukan evaluasi rutin terhadap konten-konten yang tayang setiap hari di berbagai platform media—baik di televisi, media sosial, maupun game digital.
Menurut Prasetyo, langkah pemblokiran terhadap platform digital tidak akan segan diambil apabila terbukti memberikan pengaruh negatif ekstrem pada anak-anak hingga berdampak pada perilaku yang menyimpang dan di luar nalar.
Baca Juga: Ajus Linggih Tanggapi Polemik Royalti Lagu: Usul Kerja Sama LMKN dengan Platform Musik Digital
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal tegas bahwa pemerintah tengah meningkatkan pengawasan terhadap konten digital yang dikonsumsi generasi muda, dengan mempertimbangkan faktor psikologis, sosial, dan nilai moral dalam proses evaluasi.
Editor : Wiwin Meliana