Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Film Animasi “Merah Putih: One For All” Dihujat Netizen, Kualitas Animasi Dinilai Tak Layak Tayang

Wiwin Meliana • Selasa, 12 Agustus 2025 | 17:18 WIB

Film Animasi “Merah Putih: One For All” ramai dihujat
Film Animasi “Merah Putih: One For All” ramai dihujat

BALIEXPRESS.ID– Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, film animasi bertema nasionalisme “Merah Putih: One For All” justru menuai gelombang kritik tajam dari warganet.

Bukannya menjadi tontonan inspiratif kebangsaan, trailer film ini malah dibanjiri hujatan karena dianggap memiliki kualitas visual yang buruk dan tidak layak tayang di bioskop.

Baca Juga: Sejarah Reklamasi Pulau Serangan: Dari Konglomerasi Keluarga Cendana, Hingga KEK Kura-Kura Bali

Film produksi Perfiki Kreasindo ini direncanakan tayang Agustus ini, namun sejak trailer-nya dirilis awal pekan lalu, media sosial langsung diramaikan komentar sinis, terutama di platform X (Twitter) dan YouTube.

“Selesai enggak selesai, dikumpulkan,” sindir seorang pengguna X, menyamakan proyek film ini dengan tugas sekolah yang asal-asalan dikutip pada Selasa (12/08/2025).

Netizen ramai membandingkan film ini dengan “Jumbo”, film animasi lokal yang sebelumnya sukses di pasaran dengan kualitas animasi yang dinilai jauh lebih unggul.

Banyak komentar menyebut kualitas Merah Putih: One For All seperti dikerjakan terburu-buru, dengan grafis yang kaku, pencahayaan seadanya, dan minim ekspresi karakter.

Baca Juga: Instiki Community Service Tahun 2025: Pemanfaatan Teknologi AI Untuk Meningkatkan Produktivitas Guru SMP Negeri 3 Tegallalang

“Kalau ini proyek Rp6,7 miliar, harusnya bisa jauh lebih bagus. Ini sih kelihatan banget pakai aset jadi semua,” tulis komentar lain di YouTube.

Isu makin panas setelah sejumlah warganet menemukan bahwa film ini diduga menggunakan aset stok dari pasar daring, seperti Reallusion Content Store dan Daz3D.

Dalam video analisis yang diunggah oleh kreator konten YouTube bernama Yono Jambul, adegan jalanan dalam film diduga berasal dari aset “Street of Mumbai”—yang bisa dibeli secara daring dengan harga belasan dolar AS.

Bahkan karakter utama dalam film disebut menggunakan aset siap pakai seperti Jayden (Junaid Miran), Tommy (Chihuahua Studios), serta Ned dan Francis, tanpa modifikasi berarti. Nilai masing-masing aset ini hanya sekitar Rp700 ribu.

Baca Juga: Viral! Polisi Bubarkan Balap Liar di Jembatan Merah Klungkung, Puluhan Pengendara Motor Kabur

Yang membuat publik makin geram adalah pernyataan dari produser film, Toto Soegriwo, yang mengklaim bahwa film ini dikerjakan kurang dari sebulan dengan anggaran mencapai Rp6,7 miliar. Angka itu justru memunculkan kecurigaan, mengingat kualitas output-nya jauh di bawah ekspektasi.

Sebagai perbandingan, satu episode anime populer seperti Demon Slayer memakan biaya sekitar Rp1,8 miliar dengan kualitas produksi kelas dunia. Hal ini memicu pertanyaan besar tentang penggunaan anggaran dan keseriusan dalam proses produksi.

Efek buruknya bahkan merembet ke luar negeri. Beberapa kreator aset digital seperti Junaid Miran, desainer karakter Jayden, menerima banjir komentar dari netizen Indonesia. Salah satu komentar menyebut:

“Karakter ini dibeli oleh animator Indonesia untuk film Hari Kemerdekaan. Sejujurnya kualitasnya buruk, tapi karaktermu tidak.”

Editor : Wiwin Meliana
#hut ri #dihujat #film animasi #Merah Putih One for All