BALIEXPRESS.ID – Sebuah video mengklaim memperlihatkan pelatih lumba-lumba bernama Jessica Radcliffe tewas diserang paus orca tengah viral dan memicu kepanikan warganet.
Dalam video tersebut, seekor paus pembunuh terlihat menyerang seorang wanita saat pertunjukan di taman laut, menciptakan kesan insiden tragis yang nyata.
Baca Juga: Pemkab dan DPRD Klungkung Sepakati KUA-PPAS 2026, Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5,75 Persen
Namun setelah dilakukan penelusuran fakta, video tersebut dipastikan palsu. Tidak ada kejadian seperti yang digambarkan, dan nama "Jessica Radcliffe" sendiri tidak tercatat dalam dokumen resmi atau laporan keselamatan laut.
Fakta ini dikonfirmasi oleh laporan IBT UK serta tim pemeriksa fakta independen seperti Vocal Media.
Video viral itu ternyata merupakan hasil rekayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dengan memadukan voice-over palsu dan potongan video tak terkait, video dibuat seolah-olah memperlihatkan peristiwa nyata.
Sejumlah narasi tambahan, seperti klaim bahwa serangan dipicu oleh darah menstruasi di air, juga diketahui tidak memiliki dasar ilmiah dan hanya bertujuan memancing emosi penonton.
Investigasi lebih lanjut tidak menemukan bukti bahwa tokoh Jessica Radcliffe benar-benar ada. Ia tidak tercatat sebagai karyawan taman laut manapun, baik dalam basis data publik, laporan keselamatan maritim, maupun arsip institusi resmi lainnya.
Video hoaks ini memanfaatkan kesan realistis dengan mengambil unsur dari insiden nyata yang pernah terjadi, seperti tragedi tahun 2010 yang menimpa pelatih SeaWorld Dawn Brancheau, serta kasus tahun 2009 di Spanyol yang menewaskan pelatih Alexis Martínez.
Kedua kejadian tersebut benar terjadi, namun sama sekali tidak terkait dengan video yang beredar saat ini.
Para ahli memperingatkan bahwa maraknya konten palsu berbasis AI seperti ini berpotensi menyesatkan publik, menciptakan stigma keliru terhadap satwa laut, serta menimbulkan trauma tambahan bagi keluarga korban dari kejadian sebenarnya.
“Konten seperti ini mengeksploitasi simpati dan ketakutan masyarakat, padahal informasinya palsu. Ini berbahaya,” ujar seorang pemeriksa fakta dari Vocal Media.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hoaks berbasis AI kini semakin sulit dibedakan dari berita asli, bahkan oleh pembaca yang berpengalaman sekalipun. Kondisi ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat agar selalu memverifikasi sumber informasi, terutama sebelum membagikannya di media sosial.
Editor : Wiwin Meliana