BALIEXPRESS.ID-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya memberikan klarifikasi terkait video yang beredar luas di media sosial dan menimbulkan kontroversi.
Video tersebut menampilkan seolah-olah dirinya menyatakan bahwa guru adalah beban negara.
Baca Juga: Cemburu Buta Berakhir Tragis, Janda Muda Tewas Disiksa Kekasihnya lalu Dibuang
Dalam pernyataan resmi melalui akun Instagram pribadinya, Sri Mulyani menegaskan bahwa video tersebut merupakan hasil rekayasa digital atau deepfake.
“Faktanya, saya tidak pernah menyatakan bahwa guru sebagai beban negara. Video tersebut adalah hasil deepfake dan potongan tidak utuh dari pidato saya dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia di ITB pada 7 Agustus lalu,” tegas Sri Mulyani.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima informasi dari media sosial.
Menurutnya, penyebaran video palsu seperti ini sangat berbahaya karena dapat menyesatkan opini publik.
Baca Juga: Bayi Meninggal Dua Hari setelah Lahir, Pasutri Asal Semarang Siap Gugat Rumah Sakit
“Marilah kita bijak dalam bermedia sosial,” tulisnya dalam unggahan klarifikatif tersebut dikutip pada Kamis (21/08/2025).
Sebelumnya, Kementerian Keuangan juga telah membantah kebenaran video tersebut. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro, menyebutkan bahwa video yang beredar adalah hoaks.
“Video mengenai guru itu beban negara, itu hoaks. Ibu Menteri Keuangan tidak pernah menyatakan hal tersebut,” kata Deni kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta pada 19 Agustus lalu.
Deni menambahkan, video yang dimaksud merupakan potongan tidak utuh dari pidato Menkeu dalam forum di ITB.
Baca Juga: Penambangan Batu Padas Ilegal Marak di Gianyar, Pengusaha Diduga Setor Rp5 Juta per Bulan
Dalam pidato aslinya, Sri Mulyani justru tengah membahas tantangan keuangan negara dalam membiayai gaji dan tunjangan untuk guru dan dosen, serta pentingnya keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat, dalam mendukung dunia pendidikan.
Cuplikan pernyataan Sri Mulyani dalam forum tersebut menyatakan:
“Klaster kedua adalah untuk guru dan dosen, itu belanjanya dari mulai gaji sampai dengan tunjangan kinerja. Banyak di media sosial saya selalu mengatakan, ‘oh, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar.’ Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat”.
Baca Juga: Dukung Kemajuan Usaha Lokal, Badung UMKM Week 2025 Batch I Resmi Dibuka
Pernyataan tersebut memperjelas bahwa Sri Mulyani tidak menyebut guru sebagai beban, melainkan menggarisbawahi kompleksitas dalam pembiayaan sektor pendidikan dan pentingnya kolaborasi dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik.
Editor : Wiwin Meliana